Ibu, Sekolah Pertama untuk Anak

PDFPrintE-mail

Ibu adalah perempuan pertama yang berinteraksi dengan seorang anak sebelum yang lainnya. Selama 9 bulan 10 hari seorang anak berada dalam rahim ibunya, kemudian selama 2 tahun menyusuinya dan selama 5 tahun  (balita) hingga lebih kurang usia 12 tahun secara intensif berinteraksi dengan seorang ibu. Inilah pendidikan pertama yang dinikmati oleh setiap anak di awal-awal perjalanan kehidupannya. Ibu mengajari banyak hal pada masa keemasan otak kita (golden age), mulai dari pengenalan benda-benda, nama-nama, termasuk nilai-nilai seperti kesabaran, kejujuran, pengabdian dan sebagainya. Demikian pula pada saat itu, tanpa sadar kita juga diajarkan ketidakjujuran, marah, putus asa, dan sebagainya, semua itu diajarkan tanpa sadar pada diri kita melalui proses alamiah interaksi keseharian. Bahkan jauh sebelum lahir pun seorang anak sebenarnya telah belajar dari seorang ibu saat masih di dalam kandungan (pranatal) sehingga suasana psikologis dan sikap seorang ibu saat hamil itu semuanya terekam dengan baik dalam proses pembentukan otak anak.

Sehingga wajarlah ibu adalah sekolah pertama bagi manusia. Perempuan  menjadi tiang dari sebuah bangunan negara karena peran strategisnya dalam melahirkan, mendampingi, dan mendidik generasi. Dari merekalah lahir para tokoh yang akan mengelola suatu negeri. Baik buruknya kualitas pikiran dan akhlak suatu generasi akan sangat dipengaruhi bagaimana kualitas wanitanya. Jika para ibu atau perempuan yang melahirkan generasi adalah para wanita yang baik lagi salihah, maka tentulah generasi yang dilahirkan akan menjadi terbaik pula karena didampingi dengan pendidikan yang baik sejak dini. Sehingga generasi sejak awal proses kehamilan, kelahiran, masa kanak-kanak, hingga memasuki masa remaja telah didampingi dengan budaya akhlak dan nilai-nilai terbaik yang selalu didengungkan dalam benak anaknya. Mereka tentu mengajarinya kejujuran, ketangguhan dan ketabahan, komitmen kebenaran, kesabaran, kepedulian, dan perhatian atas kebaikan serta nilai kebaikan lainnya. Sehingga sudah tentu generasi yang terlahir adalah generasi terbaik, sekiranya kelak mereka menjadi pemimpin yang mengelola negeri, maka nilai-nilai kebaikan dan kebenaran itulah yang akan dijadikan landasan mereka dalam bertindak dan bersikap.

Begitu pula sebaliknya, jika para perempuan telah rusak, maka akan lahir dari mereka generasi yang rusak pula, jelek akhlaknya, kebohongan dan ketidakjujuran terjadi di mana-mana, karena perempuan yang melahirkan generasi tanpa sadar telah meresonansikan kejelekan itu pada generasinya semenjak dalam kandungan hingga masa keemasan otak dari para generasinya.

Sedemikian penting dan strategisnya peran seorang perempuan atas wajah masa depan sebuah generasi, bangsa dan peradaban umat manusia, sehingga Allah swt memberi nama salah satu surah dalam Al-Qur’an dengan nama “An-Nisa’ yang berarti perempuan atau wanita”. Surah yang ke-4 dalam Al-Qur’an ini diawali dengan uraian tentang hubungan silah Ar-Rahim, dalam surah ini juga berisi aturan hukum tentang perempuan antara lain pernikahan, anak-anak, dan perempuan.

Bahkan sedemikian pentingnya persoalan perempuan ini hingga Rasulullah saw berwasiat agar berlaku baik kepadanya Sebagaimana dalam sabdanya:

“Telah bercerita kepada kami Abu Kuraib dan Musa bin Hizam keduanya berkata, telah bercerita kepada kami Husain bin “Ali dari Za’idah dari Maisarah Al Asyka’iy dari Abu Hazim dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Nasihatilah para wanita karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya, jika kamu mencoba untuk meluruskannya, maka dia akan patah, namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok. Untuk itu nasihatilah para wanita”. (HR. Bukhari)

Karena itulah, wajah suatu generasi dan bangsa di masa yang akan datang akan sangat ditentukan oleh karakter seorang perempuan, karena merekalah tempat pertama para generasi belajar dan di sanalah tiang sebuah negara itu tegak.

Most Read Articles

esis emir