BLUE GREY RED

      

Menjadi Mahasiswa Baru

PDFPrintE-mail

Mahasiswa, bagi sebagian yang menantikan menjadi seorang mahasiswa mungkin adalah suatu pengalaman yang mengasyikkan, atau bahkan yang paling ditunggu-tunggu. Tetapi, bagi sebagian yang lain mungkin akan merasa takut. Ada beberapa alasan yang membuat para mahasiswa baru takut menjadi ‘mahasiswa’. Pertama, takut ketika ospek, takut salah jurusan, takut ketemu dosen killer. Tetapi, dari semua itu ternyata yang paling ditakutkan oleh mahasiswa baru adalah point pertama yaitu OSPEK. Padahal kalau dipikir-pikir ospek itu seharusnya pengalaman yang paling menyenangkan dimana kamu akan dikenalkan dengan lingkungan kampus, para dosen, para senior, atau mungkin si doi yang kelak masuk kategori idaman incaran kamu. Tetapi, bagi beberapa mahasiswa baru mungkin ospek adalah pengalaman paling menyeramkan dimana kamu akan dikerjai habis-habisan oleh senior, dibentak, disuruh mengerjakan sesuatu yang membuat kamu malu. Benarkan?. Tunggu, tunggu itu ospek yang mana dulu? Ospek yang berpendidikan atau ospek yang hanya dijadikan ajang balas dendam para senior?. Jangan sampai ya kita para mahasiswa baru mendapatkan pengalaman ospek yang berdasarkan ajang balas dendam. Akhirnya terjadilah hari yang di tunggu-tunggu dimana ketika itu aku sudah mengganti statusku dari siswa menjadi mahasiswa, yang dimana pengertiannya saja beda. Mahasiswa artinya adalah siswa dengan level tertinggi dimana kita akan belajar menentukan jalan kita sendiri, baik itu jalan yang benar atau salah. Tidak lucukan kalau kita tersesat ketika mencari tempat yang kita inginkan. Baiklah kembali ke topik semula. Jadi, ketika itu aku menggunakan seragam putih-hitam khas baju kebangsaaan para mahasiswa baru, dan papan nama berbentuk persegi lima. Masih normal pikirku, dan ketika melangkah masuk ke depan kampus idamanku, teriakan para senior pun menghampiri telingaku dan dengan larian kecil aku percepat langkahku menuju barisan. Perasaan cemas kemudian menghampiriku, seakan-akan tengah berada di kandang singa. Tetapi, keadaan menegangkan tersebut perlahan mencair diselingi dengan guyonan para senior, meskipun ada beberapa senior yang tetap memasang tampang garang. Selanjutnya, keadaanya pun semakin lebih seru karena kami dikenalkan dengan lingkungan-lingkungan kampus. Kebetulan aku memilih fakultas kesehatan otomatis yang kami kunjungi adalah laboratorium yang berkaitan dengan jurusannya seperti laboratorium makroskopis, non makroskopis, hingga akhirnya sampailah ke tujuan akhir laboratorium anatomi. Untuk sebagian yang lain mungkin mereka merasa takut untuk masuk ke dalam laboratorium itu, karena aku mendengar keluh kesah mereka yang berada di belakangku. Beda denganku, aku justru penasaran dengan laboratorium tersebut. Akhirnya sampailah kami kesana seorang mentor menjelaskan kami perihal laboratorium tersebut, dan bisa ditebak apa yang pertama kami lihat organ manusia yang dibekukan, dan beberapa peti tertutup. Sudahlah, pasti kalian bisa menebaknya apa isinya. Setelah dijelaskan secara singkat mengenai beberapa bagian tubuh dengan bahasa medis acara jalan-jalan singkat pun selesai, di lanjutkan post test dengan jawaban asal-asalan. Acara selanjutnya yaitu seminar singkat yang disampaikan oleh mantan ketua BEM periode sebelumnya. Suasana tiba-tiba hening semua mata tertuju dengan sosok yang berbicara di depan. Aku bingung, karena sejujurnya dari tadi aku hanya menunduk, takut ada senior yang menatapku dengan mata menyeramkan atau bahkan yang lebih buruk mereka menghafal wajahku karena berani menatap mereka. Karena topik yang di bahas si pemateri di depan mengasyikkan aku pun memutuskan untuk menyimak, hingga akhirnya pandanganku bertemu dengan sang pembicara di depan. Deg, jantungku berdebar, mataku terdiam, pikiranku terfokus. Disaat itulah aku mulai merasakan jatuh cinta di dunia kampus, jatuh cinta ala mahasiswa baru.


Oleh: Wiladatika Ananda

Most Read Articles

emir