BLUE GREY RED

      

Sah! Mahasiswa Baru

PDFPrintE-mail

Ini hari terakhir! Menurut cerita horor yang terdengar, puncak keanehan suatu ospek adalah dihari penutupan. Disubuh yang dingin kupeluk tubuhku yang diterpa angin menusuk hingga ke tulang. Poniku yang telah tersembunyi seolah membuat dahiku beku tak berdaya. Tetapi biarkan saja setidaknya ini ujung dari segalanya.

Kulangkahkan kakiku di gerbang. Dan slepp! Terlambat 5 menit. Seketika subuh itu menjadi hangat hingga ubun-ubun pria tinggi di hadapanku. Entah sebanyak apa kalimat yang ia ucapkan padaku yang jelas ia menunjukkan jamnya dengan nada tinggi. Hukuman keterlambatan hari itu terjalani hingga fajar merekah dari sisi timur. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pegal paha hingga ke betis, bukan? Atau adakah yang lebih gila dari menunggu pohon menjawab salam selamat pagi dari bibirmu?

Detik berlalu begitu lama. Suasana yang tak ingin kulepas adalah saat dosen masuk untuk memberi pengenalan. Disitulah mahasiswa baru merasakan kedamaian yang selama ini dirindukan. Sayang tidak lama setelah itu, pintu aula tempat maba berkumpul seperti diamuk massa. Gedoran pintu itu membuat kami langsung terjaga dari istirahat yang tak panjang. Tunjuk senior ke hadapan para maba membuat maba lelaki langsung push -up. Sedang wanita dimundurkan ke sudut tembok dan di beri posisi kuda-kuda.

"Siapa yang mengirim surat cinta untuk senior ini? Siapa yang suruh bawa kacang ijo 2016? Siapa yang suruh berdiri? Siapa yang pura-pura pingsan?" teriak mereka dengan belalakan mata. Para senior mengamuk! Oh my God… satu yang aku pikirkan saat itu. Ini lebih ganas dari dunia lain. Setidaknya diacara uka-uka, pintu, jendela, dan ventilasi tidak ditutup sepengap ini. Mereka tampaknya marah sebab salah satu maba melapor pada dosen. Satu senior wanita sudah mendorong pundak maba wanita sebab memakai kostum yang salah. Kupastikan semua degup jantung maba sama dengan yang kurasakan. Suasana semakin runyam sebab datanglah senior pria membela maba ini. Yang paling tragis ternyata kedua senior yang terlibat cekcok adalah sepasang kekasih. Tepatnya kami membuatnya putus karena pembelaan satu pihak.

Luar biasa! Awal mula itu membuat para senior lelaki kacau. Tas kardus yang diletakkan di tengah ditendang dan dipakai memukul satu dengan yang lain. Aku mengingit jari dan memundurkan langkah. Para senior wanita sibuk melerai sementara sebagian dari maba sibuk menangis. Satu yang ingin kuteriakkan. Hello.. apa ada tim rescue disini? Ada yang butuh gas air mata! Aku mencari keluar jendela dengan tatapan. Dimana satpam kampus, dimana dosen? Tolonglah di hadapan kami ada perkelahian besar. Menyeramkan. Sumpah!

Perkelahian itu berlangsung lama. Hingga akhirnya seisi ruangan tiba-tiba gelap. Perlahan dentingan gitar akustik berbunyi merdu dikeheningan kegelapan...... "Waktu terasa semakin berlalu tinggalkan cerita tentang kita..." Alunan sendu lagu peterpan itu membuat air mataku pecah. Keringatku berhenti menyucur. Lampu kembali menyala dan serempak senior berteriak, "selamat datang di kampus tercinta!!!”

Pelukan ramah dan penenang mulai berdatangan dari para senior yang lepas dari perkelahian. Kami menghambur ke tengah aula dan mengekspresikan perasaan takut yang telah meluber mejadi haru. Akhh!!! Drama ini membuat air mataku menyucur. Di sudut aula terputarlah video ospek dari hari pertama hingga akhir. Acara penutupan ini membuatku mengerti kegiatan ospek. Tanpa ospek tak ada kenangan untuk mahasiswa baru. Melalui ospek aku belajar cara menghormati orang yang lebih tua. Satu hal yang berbekas aku tak akan telat lagi. Masa-masa ini akan benar-benar kukenang manis. Orang bilang gak lengkap jadi mahasiswa tanpa ospek. Itu berarti kesimpulannya: Sah! Aku mahasiswa baru.

Oleh: Dian Mangedong

Most Read Articles

emir