“Asmara di Atas Haram Pulang Kampung”

PDFPrintE-mail

Pagi itu, tepatnya Rabu 26 September 2012 jam 3.35 Wita, saya meninggalkan Samarinda menuju Bandara Sepinggan di Balikpapan. Selanjutnya melanjutkan perjalanan dengan penerbangan paling pagi ke Kantor Erlangga Banjarmasin dalam rangka ‘mengawal’ kegiatan Bedah Novel Asmara di Atas Haram (AdAH) tanggal 28 September 2012 di TB Gramedia Duta Mal dan tanggal 29 September 2012 di IAIN Antasari Banjarmasin.

Karena masih dini hari, jalanan menuju Balikpapan terasa sangat lengang dan sepi. Kondisi yang masih gelap gulita, apalagi mengemudi sendirian, membuat mata terasa tidak mau kompromi. Hanya karena bayangan ingin melihat secara langsung meriah dan suksesnya Bedah Novel AdAH ‘di kampung halamannya’, membuat kaki menjadi semakin dalam menekan pedal gas Innova yang saya kemudikan agar segera sampai di Balikpapan. Apalagi persiapan untuk pelaksanaan kegiatan ini, secara detil dan terperinci sudah saya lakukan dengan Pak Taofiq (beserta tim Banjarmasin tentunya) sejak ± 3 minggu yang lalu. Rasanya selama itulah, hampir tiap hari koordinasi melalui HP saya lakukan dengan Pak Taofiq untuk suksesnya pelaksanaan kegiatan ini. Mulai menyiapkan stok dan design perangkat promosi kegiatan, menyusun teknis acara, sampai mengatur teknis ‘joint promo’ dengan pendukung kegiatan, dimana untuk kegiatan di TB Gramedia Duta Mal didukung oleh Banjarmasin Post, Banjar TV, dan Smart FM, sedang di IAIN Antasari didukung oleh Media Kalimantan dan Duta TV.

Setelah menempuh ± 2 jam perjalanan, akhirnya tiba juga saya di Masjid Ar Rahmah Komplek Sepinggan Pratama Balikpapan yang berjarak ± 100 m dari Kantor Erlangga Balikpapan. Selesai shalat shubuh, dengan diantar Pak Langgeng Adi Prasetyo (salah satu supervisor di Erlangga Balikpapan), saya menuju Bandara Sepinggan. Walaupun penerbangan sempat mengalami delay selama ± 1,5 jam karena gangguan kabut asap tebal beberapa hari ini yang melanda Banjarmasin dan sekitarnya, akhirnya si burung besi Batavia Air yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Syamsudin Noor ‘Kota Seribu Sungai’ Banjarmasin jam 9.40 Wita.

Di Bandara, Pak Fajar dan Pak Joko, dua orang tim pemasaran Toko Buku dan Non Bupel Erlangga Banjarmasin yang menjemput saya. Pak Joko baru satu minggu ini bergabung dengan tim pemasaran Erlangga Banjarmasin. Karena berangkat dari Samarinda terlalu pagi dan belum sempat  sarapan, di perjalanan menuju Kantor Erlangga Banjarmasin, saya, Pak Fajar, dan Pak Joko singgah di ‘Warung Tenda Biru’ untuk menikmati sebungkus ‘Nasi Kuning Itik’ khas Banjarmasin. Selama perjalanan dan sarapan pagi itu, percakapan tentang persiapan Bedah Novel AdAH, berikut rencana ‘memanfaatkan’ waktu Pak Zulkifli L. Muchdi selama di Banjarmasin menjadi topik bahasan kami. Sambil menunggu kedatangan Pak Zulkifli, di kantor Banjarmasin saya masih sempat menyelesaikan design spanduk pameran yang akan dipasang di stand pameran IAIN Antasari Banjarmasin.

Sore itu saya ditemani Pak Fajar saat menjemput Pak Zulkifli di Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin. Walaupun belum pernah bertemu sebelumnya, ternyata tidak terlalu sulit mengenali wajah beliau diantara puluhan orang yang keluar dari bandara. Apalagi sebelum berangkat menuju bandara, saya sempat SMS beliau untuk menginformasikan pakaian ‘seragam putih pilot’ yang kami pakai.
Ternyata Pak Zulkifli sangat ‘low profile’, sehingga saat di mobil dalam perjalanan menuju Kantor Erlangga Banjarmasin kami sudah langsung akrab. Padahal baru hari itu kami bertemu dan komunikasi sebelumnya hanya melalui HP, itupun hanya membahas tentang jadwal kegiatan Bedah Novel AdAH di TB Gamedia Duta Mal dan IAIN Antasari Banjarmasin.

Menurut penuturan beliau, saat mendarat di Bandara Syamsudin Noor tadi beliau sempat menitikkan air mata. Setelah 3 tahun meninggalkan Banjarmasin, akhirnya beliau bisa kembali ke kota kelahirannya itu dalam kondisi kesehatan yang jauh lebih baik dan ‘bisa berjalan’ lagi. Beliau bercerita, tahun 2008 saat masih bekerja di Banjarmasin, beliau terserang stroke. Setelah dirawat dan berobat selama ± 2 tahun, beliau dibawa pulang oleh istri beliau ke Jakarta. Karena memang sepuluh tahun terakhir itu, beliau dan keluarga bermukim di ibukota negara Republik Indonesia itu. “Kalau saat kembali ke Jakarta saya duduk di atas kursi roda, Alhamdulillah sekarang saya bisa jalan kaki sendiri. Saya mengucap syukur yang tiada terhingga kehadirat Allah SWT”, ungkap beliau.

Walaupun sempat khawatir Pak Zulkifli menolak, dalam perjalanan itu akhirnya saya sampaikan juga kepada beliau bahwa ada beberapa agenda yang sudah kami siapkan diluar kesepakatan awal. Memang beliau sudah pernah menyampaikan kepada saya jauh-jauh hari melalui telepon bahwa ada beberapa agenda pribadi beliau selama di Banjarmasin, yang salah satunya nyekar ke makam kedua orang tua beliau. Agenda yang sudah saya siapkan untuk Pak Zul antara lain sharing dengan tim pemasaran Banjarmasin, mengunjungi SMPN 3 Banjarmasin dan SMAN 7 Banjarmasin (beliau merupakan alumni di kedua sekolah tersebut) silaturrahim dengan para pimpinan Banjarmasin Post (beliau pernah bekerja sebagai wartawan freelance), dan talkshow “live” di Smart FM apabila jadwal memungkinkan. Saya bersyukur sekali karena beliau sangat antusias menyambutnya, bahkan beliau tidak menyangka saya menyiapkan ‘sambutan’ yang luar biasa. Dalam perjalanan itu pula saya juga sempat menyampaikan masukan, mungkin perlu dipertimbangkan untuk menerbitkan AdAH ‘special edition’ atau ‘limited edition’ yang sudah dibubuhi tanda tangan beliau.

Aktivitas hari pertama Pak Zulkifli di Banjarmasin adalah sore itu juga Talkshow ‘live’ jam 17.00 Wita di Radio Smart FM Banjarmasin jika jadwal memungkinkan. Walaupun sempat khawatir beliau kelelahan akibat perjalanan jauh, namun karena sudah janji untuk melihat kondisi acara, akhirnya kami langsung menuju Smart FM. Ternyata karena jadwal acara yang tidak memungkinkan, acara Talkshow ditunda menjadi ‘Talkshow Live by Phone’ yang disiarkan pada hari Selasa, 2 Oktober 2012 jam 17.00 Wita. Karena konsepnya live by phone sehingga walaupun Pak Zul ada di Jakarta talkshow tetap dapat disiarkan secara Live di Smart FM Banjarmasin.

Agenda hari kedua Pak Zul hari ini adalah mengunjungi SMP Negeri 3 Banjarmasin pada jam 10.00 Wita untuk sharing dan memberi motivasi. Sambil menunggu, selama ± 1 jam mulai jam 8.00 Wita kami adakan sharing dengan tim pemasaran Banjarmasin tentang novel AdAH. Karena pada hari itu saya ada agenda lain untuk mempersiapkan pelaksanaan kegiatan di TB Gramedia Duta Mal dan IAIN Antasari, sehingga yang mengawal Pak Zul di SMP Negeri 3 Banjarmasin adalah Pak Eko Setiya Budi ASM SMP/A Banjarmasin.

Di depan ± 100 siswa SMP Negeri 3 Banjarmasin, Pak Zul menginformasikan telah terbit sebuah novel bersetting kota Banjarmasin dengan tokoh utama Yasser Al-Banjary yang juga ‘Urang Banjar’. Tidak hanya itu, novel yang bertemakan haji ini telah banyak menarik simpati pembacanya di seluruh Indonesia. Sambutan cukup meriah, apalagi setelah mengetahui penulisnya alumni dari sekolah mereka. Bahkan banyak diantaranya yang dengan lugu dan gaya kocaknya tertarik untuk menjadi penulis.

Ternyata persiapan pelaksanaan Bedah Novel AdAH sudah dijalankan Pak Taofiq beserta tim Banjarmasin dengan sangat luar biasa. Terbukti untuk pelaksanaan di TB Gramedia besok sore, hanya tinggal mempersiapkan tempat pelaksanaannya dimana baru bisa dilakukan mulai besok pagi dan Giant Cover yang belum dipigura. Spanduk acara, Pilar display, X-Banner, Shop front window, dan floor display sudah terpasang sejak dua minggu yang lalu. Pemutaran jinggle AdAH di TB Gramedia Duta Mal dan Veteran Banjarmasin yang bekerja sama dengan Smart FM sudah dilakukan sejak dua minggu yang lalu. Demikian juga Smart FM yang memutar jinggle AdAH sehari tiga kali sejak dua minggu yang lalu. Running text Bedah Novel AdAH di Banjar TV dan Duta TV Banjarmasin juga sudah muncul sejak seminggu yang lalu. Bahkan Media Kalimantan, sudah memuat acara Bedah Novel AdAH melalui liputan, advertorial, iklan dan resensi buku sejak dua minggu yang lalu. Sementara itu, persiapan pelaksanaan di IAIN Antasari juga baru bisa dilakukan mulai besok sore karena auditorium yang akan dipakai masih digunakan kegiatan sampai besok siang. Berita gembira dari panitia, peserta yang sudah mendaftar sampai hari itu sudah melebihi target 700 orang dan karena masih cukup banyak yang ingin ikut terpaksa ditambah sampai maksimal 800 orang karena tempat masih memungkinkan. Karena masih ada satu perangkat yang belum tuntas, yaitu memberi pigura Giant Cover, akhirnya sore itu juga kami cari tempat yang bisa membuat pigura Giant Cover dan harus bisa selesai esok hari.



Malamnya sekitar pukul 20.00 Wita, saya dan Pak Zul sempat bertemu dengan panitia Bedah Novel IAIN Antasari beserta moderator untuk mendiskusikan teknis pelaksanaan kegiatan Bedah Novel. Walaupun sambil bersantai di lobby hotel, banyak hal yang kami diskusikan bahkan tak terasa sampai pukul 22.00 Wita.

Hari ini adalah satu dari dua hari agenda utama Pak Zulkifli ‘pulang kampung’, yaitu Talkshow AdAH di Gramedia Duta Mal sore nanti. Namun ada dua agenda tambahan yang sudah kami siapkan, yaitu mengunjungi SMA Negeri 7 Banjarmasin untuk sharing dengan para siswa pada pukul 09.00 Wita serta silaturrahim dengan Bapak H. Pangeran Rusdi Effendi AR setelah shalat Jum’at. Karena saya dan Pak Taofiq harus mempersiapkan tempat kegiatan di TB Gramedia Duta Mal, akhirnya yang mengawal Pak Zul di SMA Negeri 7 Banjarmasin adalah Pak Eko Setiya Budi, dengan kesepakatan setelah selesai Pak Zul akan langsung diantar ke Masjid Sabilal Muhtadin sekalian shalat Jum’at dan agar dekat dengan Gedung Palimasan.

Di SMA Negeri 7 Banjarmasin, Pak Zulkifli diberi kesempatan berbicara di dua kelas berbeda oleh pihak sekolah. Acara dibuka oleh Pak Eko dengan menginformasikan bahwa Pak Zulkifli adalah alumni sekolah mereka. Kedatangan Pak Zulkifli adalah untuk mempekenalkan novel yang beliau tulis dan telah diterbitkan Penerbit Erlangga. Setelah mengetahui tujuan kedatangan tersebut, sedikit demi sedikit rasa penasaran mereka berganti dengan rasa ingin tahu yang diungkapkan dengan berbagai pertanyaan. Kurang lebih 1,5 jam acara interaktif berlangsung, dan terpaksa harus diakhiri karena waktu yang disediakan telah lewat. Tak disangka, para murid itu tak segan-segan merogoh saku untuk membeli novel AdAH. Ada 20 eksemplar yang terjual di kelas yang kedua dan 26 eksemplar di kelas yang pertama.

Usai sholat Jum’at di Masjid Sabilal Muhtadin yang merupakan masjid agung terbesar di Banjarmasin, saya bersama-sama Pak Taofiq dan Pak Zulkifli berkunjung ke Gedung Palimasan untuk silaturrahim dengan Pemimpin Umum Banjarmasin Post (Kompas Group) Bapak H. Pangeran Rusdi Effendi AR yang merupakan teman lama Pak Zul yang sudah terpisah nyaris 35 tahun. Di markasnya B-Post itu, akhirnya berkumpul juga para pimpinan teras B-Post, seperti Bapak Wahyu Indriyanta Pemimpin Perusahaan, dan Bapak Yusran Pare Pemimpin Redaksi yang juga pembahas pada Talkshow AdAH di TB Gramedia Duta Mal. Acara kangen-kangenan itu banyak diisi dengan nostalgia, mengenang tempo doeloe yang penuh perjuangan saat masih sama-sama di B-Post. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.00 Wita, akhirnya acara kangen-kangenan itu dilanjutkan di TB Gramedia Duta Mal sambil talkshow AdAH.

Saya yakin talkshow di TB Gramedia Duta Mal sore itu menjadi surprise tersendiri buat Pak Zulkifli. Betapa tidak, acara sore itu selain dihadiri para pimpinan teras Kompas Group; dari Banjarmasin Post seperti Bapak H. Pangeran Rusdi Effendi AR, Bapak Wahyu Indriyanta, dan Bapak Yusran Pare. Dari Gramedia hadir Bapak Iwan Hermawan Store Manager TB Gramedia Banjarmasin. Bahkan secara berseloroh Bapak Rusdi Effendi saat dimintai komentar oleh Mbak Erna presenter Smart FM yang memandu acara sore itu, “Hanya Pak Zulkifli lah yang bisa mengumpulkan kami semua ini, karena belum pernah terjadi sebelumnya mereka bisa berkumpul bersama di satu acara di luar kantor.” Tak ketinggalan beberapa guru dari SMP Negeri 3 dan SMA Negeri 7 Banjarmasin juga hadir pada acara sore itu. Saya sendiri secara khusus mengundang Pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Kalimantan Selatan karena setelah kegiatan kami akan mendiskusikan pelaksanaan seminar psikologi terapan.

Acara di Gramedia sore itu, diawali dengan penandatanganan Giant Cover AdAH sebagai simbolis relaunching oleh Pak Zulkifli yang diikuti para tamu undangan. Selanjutnya Kang Yusran Pare, pria kelahiran Sumedang, 5 Juli 1958 yang juga penulis buku itu, memulai pembahasan dengan ungkapan “Jangan mulai membaca novel AdAH! Karena kalau sudah mulai membaca, pasti tak ingin berhenti kalau tidak sampai selesai.” Pernyataan yang awalnya mengagetkan audiens itu akhirnya mendapatkan applaus yang meriah. Novel AdAH tidak semata-mata bercerita tentang romantisme sepasang anak manusia yang berasal dari Indonesia, Yasser Al-Banjary – seorang Qari dan Hafiz Qur’an dengan Istiqomah – seorang Qariah dan juga Hafizah, gadis cantik berasal dari Tanah Sunda. Istimewanya AdAH juga berisi bimbingan manasik haji, sehingga tidak salah kalau novel ini juga disebut sebagai Manasik Haji yang dikemas dalam jalinan cerita yang dibumbui dengan asmara, heroisme, pesan-pesan moral dan juga kritik sosial. Dengan membaca AdAH, Insya Allah akan semakin menumbuhkan semangat berhaji dan pembacalah yang seakan sedang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah dan Madinah, begitu ungkapnya.

Sesi tanya jawab didominasi pertanyaan audiens yang berkaitan dengan proses kreatif penulisan AdAH. Novel AdAH yang bertemakan haji dan kebetulan bertepatan dengan suasana musim haji saat ini, membuat acara interaktif novel dengan latar belakang cerita bersetting kota Banjarmasin dan ‘Urang Banjar’ yang masyarakatnya memang religius semakin semarak. Tips dan trik berhaji di usia muda yang dilontarkan Pak Zulkifli bak gayung bersambut. Di penghujung acara, Alhamdulillah novel AdAH banyak diserbu pengunjung. Karena sudah menjelang adzan Maghrib, acara di Gramedia Duta Mal sore itu diakhiri dengan booksigning dan foto bersama.

Sesuai rencana setelah selesai kegiatan sore itu, saya mengadakan pertemuan dengan pengurus Himpsi Wilayah Kalsel sambil makan malam untuk mendiskusikan rencana kegiatan seminar psikologi terapan yang pernah saya tawarkan melalui telepon. Hasil dari pertemuan itu akhirnya disepakati akan mengadakan kegiatan seminar psikologi terapan di dua tempat, dimana pelaksanaannya menunggu jadwal dari Bu Menuk selaku narasumber.

Selesai pertemuan dengan pengurus Himpsi Wilayah Kalsel, waktu telah menunjukkan ± pukul 20.00 Wita. Tapi masih ada satu lagi agenda saya malam ini yaitu memastikan persiapan acara bedah novel di IAIN Antasari besok pagi. Karena selesai kegiatan talkshow saya ditinggal sendiri Duta Mal, akhirnya saya minta diantar Pak Hery Haryanto, yang waktu itu akan pulang, ke IAIN Antasari.

Ternyata persiapan di Auditorium IAIN Antasari malam itu belum selesai seluruhnya. Teman-teman panitia dari KSM Blue Print masih mempersiapkan tata letak pengaturan panggung, dan pemasangan backdrop. Susunan acara juga perlu saya pastikan dengan teman-teman panitia, apalagi sudah adanya kepastian dari para undangan yang akan hadir besok. Menurut Mas Mubarok ketua KSM Blue Print, walaupun masih cukup banyak yang ingin ikut acara besok, terpaksa pendaftaran ditutup kemarin karena sudah menembus angka 800 orang. Saat mengatur panggung, ternyata ada satu perangkat lagi yang kurang dan solusi tercepatnya pinjam ke Gramedia yang tentunya harus diambil malam itu juga. Akhirnya sekitar pukul 22.30 Wita seluruh persiapan untuk kegiatan besok tuntas.

‘Kampus Yasser Al-Banjary’, menyambut penuh antusias kehadiran AdAH pagi itu. Auditorium IAIN Antasari Banjarmasin dipenuhi oleh para calon cendekiawan muda ‘Banua’, bahkan sampai ke balkon di lantai dua. Antusiasme juga diperlihatkan Rektor IAIN Antasari Banjarmasin, Bapak Prof. Dr. H. Akh. Fauzi Aseri, MA dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Humas Bapak Dr. Ani Cahyadi Maseri, S.Ag., M.Pd. Beliau dan Keluarga Besar IAIN Antasari mengucapkan selamat kepada Pak Zulkifli yang bukunya diterbitkan Penerbit Erlangga dan melalui kegiatan ini para mahasiswa dapat termotivasi untuk menulis dan menjadi penulis.

Acara yang dipandu oleh moderator Arifia Nurrahmi, presenter Duta TV Banjarmasin ini, sempat molor ± satu jam karena padamnya aliran listrik. Namun demikian tak menyurutkan sedikit pun peserta yang hadir untuk mengikuti acar ini. Diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, oleh seorang Qari dari mahasiswa IAIN sendiri, dan dilajutkan acara sambutan-sambutan, seremonial relaunching dengan membubuhkan tanda tangan pada Giant Cover AdAH oleh Pak Zulkifli, Pembahas, Rektor, Erlangga dan Ketua KSM Blue Print, selanjutnya Bedah Novel AdAH dimulai tepat jam 10.00 Wita.

Jamal T. Suryanata, seorang akademisi dan sastrawan yang bertindak sebagai pembahas mengaku, membaca novel AdAH ini ia sempat meneteskan air mata. “Jujur, saya menangis membaca novel ini pada awal-awal cerita,” ucapnya. Ia juga menilai gaya bercerita novel ini cukup lancar. Di sisi lain, Jamal terkesan dengan novel percintaan ini, karena ditulis oleh orang yang sudah berumur. “Semula saya mengira ditulis anak-anak remaja. Apalagi banyak kutipan menggunakan bahasa gaul,” ungkapnya.

Sementara Sandy Firly seorang wartawan dan penulis, yang juga pembahas mengatakan, bahwa sebagian besar cerita dalam novel AdAH merupakan pengalaman pribadi sang penulis. “Kalau Anda menulis, maka tulislah apa yang Anda tahu. Seperti dalam novel ini, penulis banyak memuat cerita yang memang pernah dialaminya, seperti cerita tentang bank, tambang, dan ibadah haji. Seperti diketahui, Pak Zulkifli pernah bekerja di Bank BTN, beribadah haji dan mungkin pernah ada teman atau kliennya yang merupakan pengusaha batubara,” ucap Sandy. Hanya saja, Sandy melihat seluruh tokoh dalam novel ini semuanya protagonis.

“Semuanya digambarkan ganteng, cantik, dan baik. Saya menilai penulis terlalu menghidupkan tokoh yang begitu sempurna hingga tidak ada celah sedikitpun,” katanya. Namun Sandy menilai novel ini tetap menarik untuk dibaca, karena penulis cukup piawai menjalin cerita.

Sesi pertanyaan yang diberikan oleh moderator disambut antusias ratusan peserta, karena Penerbit Erlangga menyediakan hadiah berupa bingkisan untuk 10 pertanyaan yang dinilai berbobot oleh penulis dan pembahas. Sebagian besar pertanyaan berkisar tentang proses kreatif penulis dalam menyelesaikan AdAH. Ternyata banyak sekali mahasiswa yang berminat jadi penulis, namun kesulitan dalam merealisasikan pikiran dalam bentuk tulisan. Selanjutnya penulis berbagi pengalaman dengan audiens, bagaimana tips dan trik menulis yang baik dan secara konkrit bisa diaplikasikan setiap orang.

Kalau tidak karena waktu sholat Dzuhur sudah tiba, nampaknya tanya jawab akan terus berlangsung saking antusiasnya mereka. Akhirnya menjelang pukul 12.30 Wita, acara ditutup setelah sebelumnya, penulis mengajak audiens mengumandangkan talbiyah untuk memohon kepada Allah SWT, agar semua yang hadir diijabah keinginannya untuk bisa berhaji dalam usia muda. Amiin. Tak ketinggalan booksigning dan foto bersama penulis menjadi penutup acara “AdAH Pulang Kampung” di kampusnya Yasser Al-Banjary siang itu. (rz)

Most Read Articles

Acara Akan Datang


esis emir