Konsumsi Susu Indonesia Masih Kalah Dibandingkan Malaysia dan India

PDFPrintE-mail

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh meresmikan Gerakan Nusatara 2014 (Minum Susu Setiap Hari untuk Anak Cerdas Aktif Indonesia) pada Kamis (05/06) kemarin. Setelah pertama kali digulirkan pada 2013 lalu, ini adalah tahun kedua di mana kita memiliki satu gerakan khusus yang diinisiasi oleh Pemerintah untuk meningkatkan taraf konsumsi susu nasional.

Di hadapan para guru yang hadir di Gedung Ki Hajar Dewantara, Kemendikbud, Jakarta, yakni tempat berlangsungnya acara peresmian Gerakan Nusantara 2014, Mendikbud mengajak agar para guru mampu menjadi faktor yang turut mendorong kebiasaan anak-anak Indonesia untuk minum susu. Menurut Mendikbud, anak-anak Indonesia harus memiliki raga dan jiwa yang sehat. Dan kesehatan raga tersebut bisa didukung dengan meminum susu setiap hari.

Sebenarnya, momen yang membuat kita teringat kembali kepada tingginya manfaat mengonsumsi susu bukan hanya kemarin. Sejak 2001, setiap tanggal 1 Juni masyarakat dunia memperingati Hari Susu Sedunia (World Milk Day). Tujuannya untuk mengampanyekan pentingnya minum susu yang terbukti bisa melindungi manusia terhadap penyakit dan menjaga kesehatan.

Pada tahun ini World Milk Day mengambil tema “Milk is the First Food for Human”. Food and Agriculture Organisation of the United Nations (FAO), Badan Pangan dan Agrikultur Dunia, sebagai pihak yang memprakarsai World Milk Day, memandang bahwa keberadaan susu amatlah penting mengingat posisi susu sebagai makanan pertama bagi umat manusia belum tergantikan hingga hari ini.

Tapi kita patut bercermin. Berdasarkan data yang ada, tingkat konsumsi susu di Indonesia ternyata masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Saat ini, konsumsi susu nasional masih berkisar 11 liter/kapita/tahun. Sementara Negeri Jiran Malaysia tingkat konsumsi susunya berada dua kali lipat di atas Indonesia, yakni 22 liter/kapita/tahun. Belum lagi jika dibandingkan dengan India (42 liter/kapita/tahun) atau Kanada (97 liter/kapita/tahun) (Suara Merdeka, 06/06).

Bukan tidak mungkin, rendahnya tingkat konsumsi susu nasional ini memiliki keterkaitan dengan tingginya angka kekurangan gizi dan rendahnya Human Development Index di Indonesia yang hanya berhasil berada di peringkat ke-124 dari 187 negara.

Jika demikian, maka sudah sepatutnya Gerakan Nusantara 2014 kita dukung sepenuhnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mendikbud pada acara peresmian Gerakan Nusantara 2014 kemarin, kesehatan raga dan jiwa anak-anak Indonesia merupakan faktor yang tidak boleh diabaikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Selain setiap hari mengonsumsi susu, Mendikbud M. Nuh juga berpesan agar peningkatan gizi anak Indonesia juga dilakukan dengan mendorong tumbuhnya Kantin Sehat di sekolah-sekolah Indonesia. Saat ini, menurut M. Nuh, ada sekitar 210 ribu sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA di Indonesia dengan total peserta didik mencapai lebih dari 55 juta siswa. “Kementerian sangat memberikan dukungan penuh untuk menjadi motor mengajak perusahaan-perusahaan membuat Kantin Sehat di sekolah-sekolah,” ucap Menteri M. Nuh. [IHU]

Most Read Articles

esis emir