Yuk, Jadi Penulis Buku Anak

DUA kelompok besar buku anak adalah fiksi dan nonfiksi. Lalu, disubkategorikan berdasarkan topiknya. Di Indonesia, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan panduan untuk tingkat kemampuan baca anak, yaitu pembaca awal, pembaca pemula, dan pembaca madya.

 Per-kembangan anak di setiap keluarga dan di setiap tempat berbeda. Masing-masing orang tua harus dapat memilih buku yang sesuai dengan rentang konsentrasi anak.

Dalam buku On Writing karya Stephen King, menyatakan bahwa setiap kali ia berkumpul dengan rekan-rekan penulis, satu pertanyaan yang tidak pernah sekalipun mereka saling tanyakan adalah: “Dari mana kamu mendapatkan idemu?” Mereka tidak pernah membahas ini karena mereka tahu bahwa mereka tidak tahu jawabannya.

Mungkin, karena ide bisa datang dari mana saja, Setiap orang pasti punya caranya sendiri dan tidak ada salahnya untuk mencoba cara-cara baru untuk mencari ide.

Setelah banyak ide berseliweran, tentu kita harus memilih yang mana yang akan kita eksekusi menjadi cerita.

Ide bukan cerita tetapi harus kita kembangkan dulu. Ibarat memasak makanan, proses mencari ide itu adalah seperti belanja bahan di pasar. Lalu proses pembuatan cerita adalah proses memasaknya. Proses menuliskannya ke dalam sebuah naskah itu adalah proses menghidangkannya.

Ada banyak cara membuat cerita. Seperti memasak, ada banyak resep yang dapat digunakan. Setiap penulis akan punya cara spesifik yang diangkatnya dan mereka juga akan menemukan cara-cara baru.

Barbara Seuling dalam bukunya, How To Write A Children’s Book and Get It Published, mengatakan bahwa procrantination (menunda-nunda) adalah penyakit umum semua penulis. Penyebabnya adalah rasa takut.

Penulis baru takut tulisannya tidak cukup bagus, bahkan, penulis yang sudah bertahun-tahun menulis pun takut tulisannya tidak lebih bagus dari karyanya yang terdahulu.

Tip berguna yang penulis sering dengar dari banyak penulis adalah disiplin. Menulislah secara rutin. Siapkan waktu tertentu setiap harinya untuk menulis. Dengan begitu, hati kita akan menemukan ritmenya sendiri dan jiwa kita akan siap menulis pada saat yang memang sudah ditetapkan untuk menulis.

Sama halnya dalam menulis. Seorang penulis bertanggung jawab untuk menjaga integritas konten ceritanya. Berusahalah untuk mencari bantuan dari konsultan atau pakar di bidang-bidang yang kita tidak kuasai. Luangkan waktu untuk mengadakan riset baik online maupun offline.

Untuk tipe naskah yang dirasa tidak terlalu membutuhkan konsultan pun, tidak ada salahnya untuk punya sekelompok orang yang dapat dipercaya untuk menjadi first render atas naskah tersebut.

Opsi tersebut via penerbit tergantung kebutuhan dan keadaan masing-masing penulis. Jika ingin menerbitkan via penerbit, cara yang efektif adalah pergi ke took buku. Cari buku-buku cetak yang kira-kira sejenis dengan buku yang kita realize. Catat (atau potret), nama penerbit dan infonya.

Kumpulkan beberapa penerbit dan urutkan berdasarkan yang mana yang paling kita inginkan untuk menerbitkan buku kita. Pengurutan ini bisa berdasarkan popularitas nama penerbit, atau bisa juga berdasarkan kelebihan dari buku-buku yang diterbitkannya.

Judul              : Belajar Menulis Cerita Anak

Penulis            : Arleen A.

Penerbit          : Erlangga For Kids

Terbit             : 2018

Tebal              : 96 Halaman

Sumber           : Harian Fajar Makassar

Most Read Articles

esis emir