Bentuk Karakter Melalui Revolusi Mental

PERSERIKATAN Bangsa-bangsa (PBB) sampai sekarang belum menyepakati definisi yang baku terhadap terorisme. Negara-negara anggota PBB belum satu suara dalam membedakan aksi terorisme dengan perlawanan sah dari warga Negara berdaulat terhadap pendudukan Negara asing.


Pada 8 September 2006, PBB telah menerbitkan United Nations Global Counter Terrorism Strategy (UNGCTS) yang membuat empat pilar upaya kontraterorisme, yaitu mencegah penyebaran terorisme, memberantas terorisme, mengembangkan kapasitas Negara dan memperkuat sistem PBB, dan memastikan penegakan hak asasi manusia.

Indonesia bersama 190-an Negara lain turut menyepakati UNGCTS dalam pemberantasan tindak pidana terorisme.

DPR RI pada rapat paripurna 21 Juni 2018 telah mengesahkan perubahan atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-undang.

Terorisme mempunyai beberapa ciri utama terorisme adalah strategi kekerasan yang dirancang untuk menanamkan ketakutan dimasyarakat agar tujuan pelakunya tercapai.

Pada bagian ini mengulas perekrutan anggota teroris, penyebab teroris, mengapa aksi terorisme berbahaya?, upaya pencegahan aksi terorisme di Indonesia, menjadi pelajar yang antiterorisme hingga paham-paham yang menyuburkan aksi terorisme.

Pada bab 2 mengenal radikalisme. Menurut Jamhari dan Jahroni, definisi radikal mengacu pada “kelompok yang mempunyai keyakinan ideologis tinggi dan fanatic yang mereka perjuangkan untuk menggantikan tatanan nilai dan sistem yang sedang berlangsung.

Sikap radikal atau radikalisme sebenarnya konsep yang netral, tidak peyoratif (melecehkan) dan tidak bermakna negative karena perubahan radikal pada dasarnya dapat dicapai dengan cara elegan, damai, ramah, santun dan persuasive.

Namun, belakangan konsep radikalisme lebih sering dikaitkan dengan kekerasan yang secara ekslusif disematkan pada gerakan agama yang ajarannya berbasis pada skripturalisme, fundamentalisme, dan puritanisme.

Pada bagian ini juga mengupas ciri-ciri radikalisme, tujuan kelompok radikalisme, bagaimana radikalisme menyebar?, bahaya radikalisme dan kemunculan kaum radikal, mencegah radikalisme, serta radikalisme dan sifat buruk yang menyertainya.

Selanjutnya memahami konflik sosial yang dibahas bab 3. Masyarakat Indonesia memiliki kemajemukan dan keragaman sosial, baik suku, budaya, adat istiadat maupun agama. Keragaman ini merupakan potensi besar dalam pembangunan bangsa sekaligus menjadi potensi besar dalam pembangunan bangsa sekaligus menjadi potensi kerawanan konflik sosial.

Diperlukan peran penting para pelajar dalam merawat kemajemukan Indonesia. Kemajemukan yang ada tidak menjadi sumber kehancuran, tetapi menjadi sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan Negara untuk lebih baik di masa depan. Kaum pelajar dapat merawat “ke-Bhinneka Tunggal Ika-an” Indonesia.

Diakhiri dengan Bab 4 Tanggap Bencana Alam. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bencana alam sebagai bencana yang diakibatkan oleh peristiwa alam, antara lain, gempa bumi, gunung meletus, tsunami, tanah longsor, banjir, kekeringan, dan angina topan.

Objek utama saat terjadi bencana adalah masyarakat. Masyarakat diharapkan mempunyai kemampuan untuk mengetahui kerentanan yang ada, dan dapat menjadi subjek utama dalam usaha-usaha mengurangi risiko berencana sehingga dapat meminimalisasi kerugian akibat bencana.

Bencana alam terjadi tidak semata-mata karena proses alam. Banyak hal yang dilakukan manusia yang turut memicu terjadinya bencana alam tertentu. Andil manusia yang turut menjadi penyebab terjadinya bencana alam. Antara lain kegiatan eksplorasi alam, ekploitasi alam dan reklamasi.

Judul              : Pendidikan Bela Negara

Penulis            : Bonto

Penerbit          : Erlangga

Terbit             : 2019

Tebal              : XIV + 167 Halaman

Sumber           : Harian Fajar Makassar

Most Read Articles

esis emir