Konsep Mendidik Dengan Cinta

ANAK-anak adalah individu yang unik dengan proses perkembangannya yang istimewa. Di antara keunikan tersebut adalah kecerdasannya, seperti teori Multiple Intelligence oleh Profesor Howard Gardner

dari Harvard University bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda dengan keunikannya masing-masing. Keunikan ini merupakan potensi yang perlu digali dan dikembangkan sehingga mereka bisa mencapai kesuksesan sesuai dengan potensinya.

Orang tua sering khawatir terhadap masa depan anaknya kemudian memaksakan mereka menekuni bidang yang bukan merupakan ranah keunggulannya. Anak-anak akan frustasi dan kehilangan kepercayaan diri karena bakat kecerdasan yang dimiliki merasa tidak dihargai. Padahal apa pun kecerdasan anak bisa menjadi jalan kesuksesannya apabila potensinya digali dan dikembangkan secara optimal.

Pada umumnya, sekolah belum mampu mengakomodasi keunikan tersebut. Kurikulum yang digunakan lebih memusatkan perhatian pada aspek kognitif semata dan belum memberikan ruangan yang cukup untuk mengenali dan mengembangkan potensi keunggulan yang dimiliki oleh anak. Sarana dan prasarana yang ada pun masih sangat minim untuk mengembangkan kompetensi-kompetensi sesuai tuntutan “Keterampilan Abad 21”. Kondisi tersebut tentu perlu segera mendapat perhatian serius dari para orang tua dan pemangku kebijakan pendidikan.

Kita juga perlu memahami sifat-sifat anak yang secara spesifik berbeda dengan orang dewasa, yaitu suka bermain dan suka meniru. Sifat-sifat ini perlu diperhatikan dalam mengembangkan strategi pengajaran yang kreatif sehingga pembelajaran siswa di kelas menjadi menyenangkan, gembira, penuh antusias, dan tidak membosankan.

Dalam bermain banyak sekalu terkandung nilai-nilai yang positif bagi perkembangan anak, termasuk perkembangan kognitif, psikologis, dan fungsi sosial anak. Mereka bisa berimajinasi secara bebas, mengembangkan kreativitas, dan bereksperimen. Selain itu, mereka menemukan dunianya yang penuh kegembiraan dan tantangan yang sangat menyenangkan.

Perkembangan anak ada masa-masa keemasan “golden years” dimana dalam rentang usia tersebut kemampuan belajar anak sangat tinggi. Pada fase itu saatnya pendidikan karakter dan budi pekerti ditanamkan sejak dini karena akan berdampak terhadap etika dan moral mereka hingga kelak ketika mereka remaja dan dewasa.

Dalam pendidikan, guru memainkan peranan yang sangat penting. Banyak anak-anak setelah dewasa berhasil mencapai kesuksesannya berkat peran gurunya yang luar biasa. Sebagai pendidik, guru dituntut betul-betul profesional dan teladan bagi murid-muridnya. Tak hanya menguasai materi pelajaran tetapi juga memiliki sikap dan karakter yang baik, menyenangkan, serta kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran.

Dalam buku ini, penulis berbagi beberapa metode dalam mendidik anak, khususnya pendidikan karakter dan budi pekerti melalui contoh-contoh yang sederhana. Meninjau kembali beberapa metode klasik yang sangat efektif untuk mendidik anak, seperti mendongeng dan membaca cerita yang sangat disukai oleh anak-anak. Metode ini sebenarnya kaya dengan kreativitas dan media yang efektif untuk menanamkan karakter dan budi pekerti. Nilai-nilai kemanusiaan, heroism, nilai-nilai budaya dan kearifan lokak. Metode ini juga akan mendorong budaya suka membaca yang semakin kurang digemari oleh anak.

Terakhir, penulis mengingatkan mengenai dampak teknologi informasi dan komunikasi terhadap anak dan tips bagaimana mendidik merekas di era informasi sekarang ini. Bagi anak-anak generasi milenial yang sejak lahir telah akrab dengan perangkat digital, tentu teknologi informasi merupakan keniscayaan yang tidak bisa dibendung. Teknologi ini bagaikan pisau bermata dua, memiliki manfaat positif dan juga bisa berdampak negatif.

Judul : Melindungi & Mendidik Anak Dengan Cinta

Penulis : Erlinda dan DR. Seto Mulyadi

Penerbit : Erlangga

Terbit : 2018

Tebal : XVIII + 206 Halaman

Sumber : Harian Fajar Makassar

Most Read Articles

esis emir