Meningkatkan Budaya Membaca dengan Pendekatan PAIMO

PDFPrintE-mail

Untuk meningkatkan budaya membaca buku di kalangan siswanya, Pak Suhardi, M.Pd. Guru Bahasa Indonesia yang juga Kepala SMA Negeri 1 Sumber, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah punya kiat khusus. Yaitu melalui pendekatan PAIMO. Apa itu?

Kebiasaan membaca di kalangan siswa SMA Negeri 1 Sumber, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah masih sangat rendah. Hal itu tampak dari sedikitnya jumlah buku atau bacaan yang mereka baca dan rendahnya frekuensi membaca buku. Kondisi ini sangat memrihatinkan mengingat kebiasaan membaca sangat mendukung keberhasilan belajar siswa. Bahkan dalam skala luas, kebiasaan membaca menjadi ukuran tingkat kemajuan suatu bangsa.

Kebiasaan membaca pada dasarnya adalah suatu perilaku yang dapat dibentuk melalui proses pembiasaan. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kebiasaan membaca, salah satunya adalah penerapan Pendekatan PAIMO atau Pembelajaran Aktif Inovatif Militan dan Otonom.


Gambar atas adalah bukti laporan/rangkuman hasil siswa membaca. Foto di sampingnya adalah ilustrasi kegiatan presentasi hasil siswa.
Membaca dengan mengandalkan kegiatan aktif di pihak siswa dalam membaca buku apa saja, asal baik dan pantas dibaca siswa. Kegiatan itu direncanakan dengan baik dan selalu diupayakan inovasi-inovasi pembelajaran agar terjadi peningkatan. Guru berupaya menumbuhkan sikap pantang menyerah (militan) sehingga aktivitas membaca terus berjalan sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan, sepanjang semester, dan sepanjang tahun.

Dengan cara itu akan terbentuk kebiasaan yang otonom pada diri siswa, sehingga terbentuklah budaya membaca yang baik (ideal).

Penerapan pendekatan ini sangat sederhana dan dapat dilaksanakan oleh semua guru pada semua jenjang pendidikan. Mula-mula, guru mewajibkan setiap siswa membaca buku di rumah (buku apa saja yang bermanfaat). Sambil membaca, siswa diminta menuliskan rangkuman hasil membaca secara ringkas (1-2 halaman) dalam sebuah buku kumpulan rangkuman hasil membaca.

Untuk keperluan pengendalian, guru membagi kelas menjadi empat/lima kelompok. Setiap kelompok wajib mempresentasikan secara lisan laporan hasil membaca di depan kelas, satu putra dan satu putri. Guru memberi kesempatan kepada setiap siswa yang telah menyelesaikan membaca satu judul buku/bacaan untuk mengajukan laporan (ringkasan) hasil membaca untuk diberi poin (ditandatangani dan diberi tanggal).

Setiap pertemuan KBM, guru memberi kesempatan kepada dua siswa (putra-putri) untuk mempresentasikan secara lisan laporan/ringkasan yang mereka buat. Siswa yang tampil presentasi memperoleh dua poin, yaitu poin penghargaan untuk ringkasan tertulis dan poin untuk presentasi lisan. Alokasi waktu untuk presentasi antara 10-20 menit.

Setelah presentasi dan pemeriksaan rangkuman yang dilaporkan siswa, kegiatan KBM rutin dilaksanakan seperti biasa.

Untuk keberhasilan kegiatan ini diperlukan dukungan koleksi perpustakaan yang cukup. Dapat pula memanfaatkan perpustakaan umum atau penyewaan buku bacaan. Sumber bacaan bisa dari mana saja, dari yang gratis maupun berbayar.

Setelah secara aktif, inovatif, militan, akhirnya secara otonom sebagian besar siswa mampu menyelesaikan kegiatan membaca sejumlah buku yang bervariasi. Untuk mengukur keberhasilan ini, penulis menerapkan beberapa indikator. Pertama, kebiasaan membaca “Sangat Ideal” tercapai jika siswa mampu menyelesaikan membaca minimal enam judul buku dalam satu semester. Kedua, kebiasaan membaca “Ideal” jika siswa mampu menyelesaikan membaca 3 – 5 judul buku dalam satu semester. Ketiga, kebiasaan membaca “Kurang Ideal” jika siswa hanya mampu menyelesaikan membaca antara 0 - 2 judul buku dalam satu semester.

Kriteria tersebut penulis jadikan ukuran keberhasilan praktik ini dan terbuktilah bahwa penerapan Pendekatan PAIMO mampu menumbuhkan budaya membaca di kalangan siswa SMA Negeri 1 Sumber, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Dampak positif dari praktik ini adalah terjadinya peningkatan jumlah buku yang dibaca siswa dalam sebulan, satu semester, dan setahun. Siswa terbiasa membaca buku. Kebiasaan membaca terbentuk dan meningkat. Tercipta masyarakat pembelajar (learning community). Keberhasilan belajar materi pelajaran lain juga terbantu. Kualitas pendidikan siswa meningkat.

Sumber :www.wapikweb.org

Most Read Articles

esis emir