8 Mei 2019 Foto Ilustrasi | yudi

Eksistensi Kitab Kuning Ditengah Gempuran Digitalisasi

Foto Ilustrasi | yudi
Foto Ilustrasi | yudi

Pada era digitalisasi terlebih saat ini, hampir semua bidang kehidupan terkena dampaknya, baik dampak negatif maupun positif, termasuk di dalamnya buku. Pada era digitalisasi seperti sekarang ini banyak buku-buku konvensional berupa buku cetak yang mulai bertransformasi menjadi buku digital dalam bentuk e-book. Hampir semua genre buku bisa dibuat ke dalam versi digital mulai dari bacaan umum, pelajaran, novel, biografi, hingga pop up yang kini bertransformasi menjadi animasi digital dengan metode scan QR atau kode yang ada pada buku. Pertanyaannya adalah, bisakan kitab kuning dalam agama Islam dijadikan e-book khususnya di dunia pesantren? Bukankan kitab kuning membutuhkan penafsiran yang mendalam dari ahli agama dalam mempelajarinya?

Kitab kuning sendiri merupakan istilah untuk kitab literature dan referensi Islam dalam bahasa arab klasik yang di dalamnya meliputi berbagai bidang studi seperti Qur’an, Tafsir, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadist, Fiqih, Ushul Fiqih, Kaidah Fiqih, Tauhid, Ilmu Kalam, Nahwu dan Sharaf atau Ilmu Lughah termasuk Ma;ani Bayan Badi’ dan Ilmu Mantik, Tarikh atau sejarah Islam, Tasawuf, Tarekat, dan akhlak, serta ilmu-ilmu apapun yang ditulis dalam Bahasa Arab oleh para ulama dan intelektual muslim klasik. Dikutip dari tulisan Sobih Adnan dalam tulisannya yang berjudul “Literasi di Pesantren: Kitab Kuning di Tengah Gelombang Digital”. Tradisi pesantren tak ikut-ikutan meski zaman kian instan. Kebiasaan kiai dan ustad membacakan kitab kuning kepada santri secara keseluruhan begitu penting diambil sebagai teladan. Dalam dunia pesantren juga dikenal sindiran belajar kepada setan. Sebutan ini biasanya diarahkan kepada para pembaca yang mengabaikan betapa pentingnya keberadaan pembimbing. Transformasi keilmuan kitab kuning, relative disarankan agar dibarengi dengan kesinambungan sanad yang jelas, hingga terhubung kepada puncak penyampai syariat, Nabi Muhammad SAW.

Dengan adanya tradisi membaca kitab kuning secara langsung dengan didampingi ahli agama untuk menafsirkannya, dampak buruk dari digitalisasi terutama dalam hal tulisan atau buku seperti hoaks, pemelintiran, pembuangan fakta demi ambisi keduniaan, apalagi fitnah yang merusak sendi-sendi agama dan bangsa, taka da tempat di pesantren.

Sumber: Alkhoirot.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *