8 Mei 2019 Buku, darimanakah asalnya?

Buku, darimanakah asalnya?

Ekobagus | Kontes Foto Hari Buku Nasional 2018

Bulan Mei merupakan bulan pendidikan. Karena setiap tanggal 2 Mei bertepatan dengan hari lahirnya bapak pendidikan Indonesia yaitu Bapak Ki Hajar Dewantara yang sekaligus juga diperingati sebagai hari pendidikan nasional.

Jika kita berbicara tentang pendidikan, tentunya berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Banyak sumber yang bisa digunakan untuk mendapatkan ilmu. Namun, tidak ada yang selengkap mencari ilmu melalui sebuah buku.

Buku, secara harfiah merupakan sebuah kumpulan kertas atau bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan, gambar, atau tempelan yang diciptakan sebagai bentuk metode pencatatan untuk peristiwa, kejadian, pengalaman atau imajinasi seseorang.

Dari hal-hal berikut  ini lah tulisan dalam tiap lembar kertas yang ada dalam buku dapat kita baca dan jadikan sebagai pembelajaran serta sumber referensi/informasi untuk menambah ilmu dan wawasan kita.

Selain itu, buku juga menjadi tonggak perkembangan penulisan dan berbagai penemuan lain seperti kertas, tinta, hingga percetakan.

Tapi, tahukah kalian bagaimana asal usul sebuah buku ditemukan?

Asal usul buku ditemukan pertama kali dalam bentuk tablet prasasti yang  digunakan di Mesopotamia pada milenium ke-3 sebelum masehi. Sejarah buku juga ditemukan di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas papirus yang berisi tulisan yang digulung. Bentuk gulungan inilah yang merupakan bentuk awal dari sebuah buku.

Tapi menulis di papirus tak bisa sembarangan. Tulisan yang dicatat pada benda ini adalah tulisan suci. Ini terbukti dari banyak teks papyrus berasal dari kuburan, tempat doa, hingga pemyimpanan teks suci lainnya. Papirus sendiri merupakan bukti pertama dari buku-buku kerajaan Mesir kuno. Sebelum mengenal kertas, orang juga mencatat berbagai hal pada tulang hewan, kerang, kayu, hingga kain sutra. Hal ini lazim dilakukan di China pada abad ke-2 SM.

Perkembangan selanjutnya, orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit domba yang disamak dan dibentangkan. Lembar ini disebut pergamenum yang kemudian disebut perkamen, artinya kertas kulit. Perkamen lebih kuat dan lebih mudah dipotong dan dibuat berlipat-lipat sehingga lebih mudah digunakan. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid.

Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana. Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden.Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. Awalnya yang banyak diterbitkan adalah kitab suci, seperti Al-Qur’an yang dibuat dengan ditulis tangan.

Penemuan Ts’ai Lun telah mengantarkan bangsa Cina mengalami kemajuan. Sehingga, pada abad kedua, Cina menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia.  Sebagai tindak lanjut penemuan kertas, penemuan mesin cetak pertama kali merupakan tahap perkembangan selanjutnya yang signifikan dari dunia perbukuan.

Penemu mesin cetak itu berkebangsaan Jerman bernama Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg. Gutenberg telah berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku yang dibuat dengan ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu, Gutenberg juga melengkapi ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja untuk menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya kecil dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.  Gutenberg memulai pembuatan mesin cetak pada abad ke-15. Teknik cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.

Di-tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *