Testimoni Ramadhan

Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan setiap tahun tentu kita memiliki cerita yang berbeda-beda. Jika dua tahun lalu adalah saat pertama kali aku menginjakkan kaki di sebuah pondok pesantren yang jauh dari kedua orang tuaku, boleh jadi sekarang adalah tahun terakhirku melewati bulan ramadhan di pondok. Ketika itu baru saja aku ditinggal ayah dan ibuku selama dua minggu di pesantren, aku harus menjalani hari pertama puasa ramadhan tanpa kedua orang tua yang selalu mendampingiku. Benar saja, suasananya jelas berbeda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya saat aku selalu berkumpul dengan ayah, ibu, keluarga, dan teman-temanku ketika kami hendak pergi tholabul ‘ilmi yang biasa kami sebut pesantren kilat. Yang namanya kilat tentu tidak membutuhkan waktu lama. Namun kali ini aku benar-benar sudah dan tepatnya sedang berada di dalam pondok pesantren. Mungkin sebagian dari kalian berpikiran bahwa pesantren adalah sebuah tempat yang penuh dengan peraturan-peraturan, terkekang bagai di dalam penjara, tidak ada yang mau berlama-lama berada di tempat ini. Aku juga dulu sempat berpikir begitu. Dulu, jauh sebelum akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di pesantren.

Tak seperti yang kuduga, ternyata tinggal di pesantren jauh lebih menyenangkan. Teman-teman yang seperti keluarga ini sudah pasti selalu stand by menemani perjalananku selama dua puluh empat jam disini. Bukan hanya itu, para guru yang setia menemani kami juga sudah menjadi orang tua bagi kami. Aku sangat bersyukur dengan semua yang aku dapat disini. Kebersamaan, solidaritas, kekompakan, juga rasa persaudaraan yang tinggi, semua tidak akan pernah aku dapatkan jika bukan di pesantren. Saat waktu fajar mulai sampai dan sayup adzan subuh berkumandang, kami berbondong-bondong melangkah menuju masjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Berburu shaf paling depan agar mendapat pahala yang berlipat. Setelah berjamaah subuh kami biasa mengaji kitab akhlaq atau jika tidak, kitab fiqih pun kami pelajari. Namun karena saat ini sedang bulan ramadhan, kami mengisi waktu dengan tadarus al-qur’an. Bukankah ketika ramadhan kita dianjurkan untuk membaca Al-Qur’an? Maka kamipun tidak mau ketinggalan. Ada hadits yang mengatakan bahwa apabila kita membaca satu huruf saja ayat Al-Qur’an, kita sudah mendapat satu kebaikan darinya, dan satu kebaikan itu dilipat gandakan dengan sepuluh kebaikan. Maka jika setiap hari kita membaca Al-Qur’an, sudah berapa huruf dalam Al-Qur’an yang kita baca? Berapa banyak pula pahala yang kita dapat setelah membacanya? Subhanallah, mudah-mudahan kita termasuk ke dalam orang-orang yang mencintai Al-Qur’an yang juga dapat mengamalkan serta mendakwahkan isi Al-Qur’an. Aamiin ya Allah.

Menjelang pagi, biasanya kami melaksanakan tandzif atau piket di asrama. Lalu sekitar pukul delapan…

Assalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokaatuh. Kepada seluruh santri putra dan putri harap segera kumpul di depan masjid. Syukron, wassalamu’alaikum warrohmatullahi wabarokaatuh.

Baru saja aku mau katakan. Baiklah aku harus segera berangkat, oh iya, kalian pasti bertanya-tanya. Alhamdulillah sekarang ini di pesantrenku sedang dilaksanakan Ujian Akhir Semester setelah satu minggu lalu aku berjuang mati-matian agar dapat menaklukan semua soal-soal ujian di sekolah. Dan sekarang aku masih harus berperang dengan soal-soal ujian di pesantren. Semoga saja Allah selalu menyertai setiap langkahku dan tetap memberi kelancaran sampai semua berakhir. Oh, ternyata semua santri sudah berkumpul di depan masjid. Mereka terlalu bersemangat hari ini, aku tidak boleh kalah oleh mereka! Setelah berdoa bersama aku langsung melesat menuju ruanganku. Bismillahirrohmanirrohiim…

Selama bulan ramadhan kali ini, Alhamdulillah aku jadi lebih rajin dari sebelumnya. Sebenarnya banyak detik berharga yang menyapa di hadapanku. Aku selalu teringat tentang ramadhan. Bulan ini memang pantas ditunggu banyak hamba Allah. Sekecil apapun perbuatan kita, akan Allah lipat gandakan pahalanya. Benar-benar bulan yang penuh rahmat, penuh ampunan. Aku selalu merindukannya dan tidak akan pernah menyia-nyiakan kedatangannya. Setiap detik diisi dengan dzikir. Seseorang yang tidur pada bulan ramadhan saja pahalanya sama seperti yang sedang berdzikir, bagaimana jika ditambah dengan amal-amal perbuatan kita yang lain? Fastabiqul khoirot, selalu berlomba dalam kebaikan dimanapun berada. Pagi, siang, sore, dan malam, selain sholat fardu, kita juga memperbanyak sholat sunnah, melanjutkan tadarus Al-Qur’an setiap sebelum maupun setelah sholat fardu. Membantu teman yang kesulitan, saling berbagi rezeki ketika orang tua mengunjungi pondok. Sungguh indah, semua itu aku dapatkan di pesantren ini. Dan hal yang paling aku sukai adalah ketika seluruh santri sedang bertadarus Al-Qur’an di masjid, kapanpun itu, suasana yang kurasa begitu nyaman setiap mendengar ayat-ayat itu dilantunkan. Malam sehabis sholat sunnah tarawih kami melanjutkan kegiatan mengaji yang juga masih berkaitan dengan Al-Qur’an. Bersama Pak Ajengan Eming, kami mengaji tafsir qur’an. Alhamdulillah aku selalu stand by di shaf paling depan. Meskipun tak jarang rasa kantuk menyerang dan harus kami lawan. Ada yang berhasil melawannya, ada pula yang tak tahan dan akhirnya terkena hukuman karena nundutan atau bahkan tidak sengaja ketiduran saat tafsiran. Terkadang aku suka tertawa sendiri melihat berbagai ekspresi mereka yang sedang mengantuk.

Dua minggu berlalu terasa begitu cepat. Serangkaian ujian untuk syarat kenaikan kelas sudah kami lewati. Semuanya akan diumumkan hasilnya nanti malam saat acara buka bersama di pondok sehabis sholat sunnah tarawih. Sebelum buka puasa, beberapa santri yang termasuk kelas tahfidz maju ke depan membacakan beberapa surat Al-Qur’an, termasuk aku. Alhamdulillah aku dapat membaca surah Al-Muthoffifin dengan lancar. Setelah semuanya membaca surat-surat dalam Juz 30, tiba saatnya berbuka. Makan dan minum takjil dengan suasana berbeda dari biasanya, kamipun langsung bergegas melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Baru setelah itu dilanjut dengan makan besar.

Satu jam berlalu. Sholat sunnah tarawih pun telah kami tunaikan. Malam ini tidak ada tafsiran karena setelah tarawih kami kembali berkumpul di aula pesantren untuk menghadiri acara pembagian rapot. Aku sudah pesimis, kurasa peringkatku menurun dari semester lalu. Tapi ini bukan masalah peringkat, yang terpenting aku dapat mengamalkan segala ilmu yang ku dapat walau hanya setitik. Saat suasana semakin tegang, Ustad Afif memanggil satu per satu nama yang dinobatkan sebagai juara-juara kelas. Entah kenapa aku merasa cukup deg-degan saat itu. Tiba saatnya giliran kelasku. Dan Alhamdulillah, namaku terpanggil sebagai juara pertama sekaligus juara umum di sekolahku. Aku hanya terdiam saat itu, Alhamdulillah ya Allah aku masih dapat memperatahankannya. Semoga aku tetap dapat mengamalkan pelajaran yang ku dapat ya Allah. Dan ketika semua sudah selesai, pembagian rapot pun sudah usai. Beberapa jam lagi aku akan pulang ke rumah. Mudah-mudahan kabar ini menjadi kado terindah untuk kedua orang tuaku. Dan semoga saja ini tidak menjadi ramadhan terakhirku berada di pondok.

Oleh : Gita Riyani

Dari : Subang, Jawa Barat

3 thoughts on “Testimoni Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *