Sebelas Hari dan Sebuah Keputusan Besar

Selalu saja ada cerita yang menarik setiap kali Ramadan datang. Sebagaimana tahun lalu, saya menghabiskan sebagian bulan puasa saya di tempat KKN (Kuliah Kerja Nyata). Selama berpuasa di tempat itu saya belajar banyak perihal kegotong-royongan, menaham amarah, budaya setempat dan lain sebagainya. Semua itu menjadi sumbu yang pada akhirnya meledakkan rasa bahagia saya saat Lebaran tiba. Serta memperkaya pengalaman saya yang akan membentuk kepribadian saya menjadi lebih baik.

Ramadan kali ini pun tidak jauh berbeda. Lima hari menjelang bulan puasa, saya menerima telpon dari salah satu perusahaan di Gresik tempat saya melamar pekerjaan. Dalam pembicaraan di telpon itu, dikatakan bahwa saya diterima bekerja di perusahaan tersebut. Tentu saya sangat bersyukur. Bahagia bukan main. Sebab perusahaan ini bisa dibilang elit. Punya kantor yang kondisinya sesuai dengan apa yang saya cita-citakan sejak dulu. Dikatakan pula bahwa hari kerja dimulai pada Senin 6 Juni 2016. Satu hari sebelum tanggal itu, saya berangkat ke Gresik dengan segenggam restu dari kedua orang tua.

Tanggal tersebut adalah tanggal untuk hari pertama puasa. Saya pun berpikir itu sama artinya dengan sahur dan buka puasa pertama saya tidaklah di rumah. Dan memang benar, saya menghabiskan sahur pertama saya di sebuah masjid di Gresik. Begitu juga buka puasa pertama saya yakni di sebuah warung dekat asrama saya.

Saya berada di perusahaan tersebut selama dua hari untuk menjalani orientasi kerja sebelum akhirnya saya dipindah ke salah satu cabang yang ada di luar kota (termasuk luar pulau) yakni di kota Sumenep, Madura. Tentu saya tidak menolak dengan keputusan tersebut. Sebab hal itu sudah menjadi kesepakatan awal ketika wawancara kerja. Lagipula, saya pikir, cabang yang ada di sana tidak akan jauh berbeda dengan pusatnya di Gresik.

Singkat cerita, sampailah saya di Sumenep. Supir yang menjemput saya mengantar saya menuju tempat kerja. Saya agak terkejut ketika dari arah jalan raya, mobil berbelok menuju jalan yang lebih kecil. Saya melewati perbukitan dengan tegal-tegal di kanan kiri. Jarang sekali rumah. Hanya satu dua yang bisa saya temui. Mobil terus melaju sampai akhirnya kembali berbelok menuju jalan yang lebih kecil. Di sini sudah mulai banyak rumah penduduk. Tanpa terasa saya pun tiba di tempat kerja saya.

Di sinilah kekecewaan saya dimulai. Ketika menyetujui untuk siap ditempatkan di luar kota (bahkan luar Jawa) pandangan saya bahwa tempat kerja saya kelak, meskipun di sana adalah cabang, tak akan jauh berbeda dengan di Gresik. Mulai dari lokasi kerja, fasilitas kantor hingga budaya kerjanya. Namun, apa yang saya bayangkan sejak berangkat dari Gresik jauh berbeda dengan kenyataan yang ada. Lokasi kerja saya berada di pelosok di tepian pantai dan jauh dari pusat kota.

Bukan hanya itu saja yang membuat saya kecewa. Hari kedua saya berada di sana, saya diajak untuk melihat dan belajar memahami proses produksi di salah satu pabrik. Saya pergi ke pabrik yang dimaksud dengan ditemani seorang buruh di sana. Seperti biasa, saya mengenakan pakaian sesuai peraturan perusahaan yang disampaikan saat masa orientasi selama dua hari di Gresik: kemeja, celana kain dan sepatu vantofel. Akan tetapi, pakaian saya yang sudah sesuai dengan peraturan ini justru membuat saya malu. Kenapa? Karena ketika berbaur dengan buruh di sana saya dibilang mirip seperti ‘pegawai Adira’. Sontak hal ini membuat saya sedikit sakit hati. Tidak terima, saya pun mengatakan bahwa “ini sudah sesuai peraturan perusahaan”. Sayangnya, para buruh itu justru tetap tertawa seolah jawaban saya cuma omong kosong. Pernah juga, salah satu atasan saya meledek sepatu yang saya kenakan. Dia bilang bahwa daripada memakai vantofel, mending pakai sepatu boots saja. Dia mengatakannya sambil tertawa-tawa. Dia sendiri ke kantor hanya mengenakan sandal.

Selain budaya berpakaiannya, jam kerja di sana juga tidak sesuai dengan peraturan perusahaan. Sesuai peraturan, jam kerja dimulai pukul 08.00 sampai dengan 16.00. Tapi yang terjadi di sana sungguh mengecewakan. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 lebih, masih saja ada pegawai yang belum hadir. Saya pun bertanya-tanya, kenapa selama orientasi saya digembleng dengan berbagai macam peraturan perusahaan? Dituntut untuk mentaatinya pula? Padahal yang terjadi di lapangan jauh berbeda dengan apa yang disampaikan. Saya jadi mempertanyakan integritas perusahaan ini. Saya mulai kecewa. Saya sudah berharap lebih, terlanjur punya bayangan yang baik, namun justru saya harus menelan rasa kecewa bulat-bulat.

Mungkin bisa saja saya beradaptasi jika mau. Tetapi, sayang, kekecewaan saya sudah terlampau besar. Belum lagi keadaan ini membuat harapan saya untuk bekerja di kantor yang elit pupus. Saya tidak mau mengambil risiko perasaan saya tertawan kekecawaan yang terlalu mendalam. Saya pun memilih mengundurkan diri meskipun keputusan ini membuat kedua orang tua saya kecewa. Memang orangtua tak mengatakan bahwa mereka kecewa. Namun saya tahu hal itulah yang mereka rasakan. Saya pun kembali ke kampung halaman. Dan kembali menjadi pengangguran lagi. Namun saya sudah siap dengan konsekuensi yang akan saya hadapi. Saya paham bahwa keputusan besar selalu membutuhkan jiwa yang besar. Dan, perjuangan yang lebih besar juga setelahnya.

Sebelas hari itu membuat saya kembali belajar banyak hal. Hal terpentingnya ialah bagaimana ke depan saya tidak mengecewakan kedua orangtua lagi, melainkan membahagiakannya.

Tapi satu hal yang tak akan saya lupa. Ini soal perkataan ibu saya. Ibu bilang, “Kalau kamu ingin jadi penulis. Semoga kamu menjadi penulis terkenal, Nak.” Kata-kata itu ibu ucapkan saat saya berpamitan ketika hendak pergi ke Gresik dalam rangka memenuhi panggilan kerja.

Oleh: Yudik Wergiyanto

Dari: Situbondo, Jawa Timur

kontes cerita ramadhan emir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *