Dan, Aku Harus Mencuci Karpet Masjid

Seperti kebanyakan orang, aku punya pengalaman lucu seputar Ramadhan. Makan dengan nikmat di siang hari karena lupa sedang puasa Ramadhan. Berlama-lama di kamar mandi. Duduk di depan TV dengan takjil di tangan, menunggumpenuh harap adzan Maghrib berkumandang.

Namun, ada satu peristiwa di bulan Ramadhan yang tersimpan dengan baik dalam memoriku, walau terjadinya sudah belasan tahun lalu.

Ramadhan kala itu, seorang sepupu yang masih di taman kanak-kanak tengah menghabiskan liburan sekolahnya di rumahku.

Malamnya, dia merengek ikut tarawih bersamaku. Aku tidak keberatan mengajaknya, toh tidak ada salahnya membiasakan dia ikut sholat tarawih. Walaupun sedikit ribet karena aku harus membawa sebotol air putih untuknya, juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang seperti tidak ada habisnya.

Saat sholat tarawih mulai dilakukan, dan kami melakukan salam, sepupu kecilku menarik mukenaku dan bertanya, “Mbak, sholatnya masih lama?”

Awalnya aku menjawab, “Sebentar lagi. Sabar ya.” Namun setelah beberapa kali dia melakukan hal yang sama, akhirnya aku bertanya, “Kenapa?”

“Ngantuk.”

Oh. Oke. Aku bisa melihat matanya yang sayu. “Ya sudah, kamu tidur saja di atas sajadah. Nanti mbak bangunkan kalau sudah selesai.”

Tanpa bertanya lebih lanjut, sepupu kecilku langsung bergelung di atas sajadahnya, dan tidur pulas. Tidak bergerak sama sekali hingga sholat tarawih dan witir selesai.

Sambil melipat mukena aku membangunkannya. “Dik, bangun, sholatnya sudah selesai. Ayo pulang.”

Sepupu kecilku bergeming. Tidak membuka matanya, tidak menjawab, tidak bergerak sama sekali. Aku menggoyang pundaknya. Tapi dia hanya bergumam, tanpa membuka mata, bahkan meringkuk lebih rapat.

Aku memegang pinggangnya, dan merasakan celananya yang basah. Kulihat botol minumnya yang berdiri di atas karpet, tertutup rapat. Perasaanku jadi tidak enak. Aku pegang sajadah di bawah pinggangnya, basah juga. Demikian juga karpet di bawah sajadahnya.

Astaga, sepupu kecilku mengompol di masjid.

Dengan campuran rasa takut, malu, juga jengkel pada sepupu kecilku yang masih saja meringkuk, pulas, di atas sajadah, aku menemui pengurus masjid. Aku ceritakan pada mereka apa yang terjadi, kemudian meminta maaf dan berjanji akan mencuci karpet masjid setelah aku mengantar sepupuku pulang. Aku sangat lega mengetahui mereka tidak marah dan menyetujui permintaanku.

Jadi, aku kembali ke sisi sepupuku, membangunkannya. Tapi dia malah merengek, keras, seperti akan menangis. Namun tetap tidak membuka matanya. Tidak ingin membuat insiden lebih lanjut, terpaksa aku menggendong sepupu kecilku yang masih saja tidur pulas, sepanjang 200 meter dari masjid ke rumah. Untunglah aku bertubuh bongsor untuk anak kelas lima SD, sedangkan sepupuku bertubuh kurus kering.

Setelah menyerahkan sepupu kecilku yang masih saja tidur pulas pada ayahnya, aku berlari kembali ke masjid untuk memenuhi janjiku, mencuci karpet masjid.

Ternyata karpet masjid berwarna hijau tua yang harus aku cuci hanyalah satu gulungan kecil karpet. Bukan satu gulung besar karpet seperti yang aku kira. Jadi, malam itu aku mencuci satu gulung karpet di pelataran masjid, kemudian mengepel lantai masjid yang terkena najis air seni sepupuku. Alhamdulillah, ada seorang bapak pengurus masjid yang membantuku.

Keesokan malamnya, saat sepupu kecilku kembali merengek ingin ikut tarawih bersamaku, aku langsung berlari meninggalkannya. Kututup telingaku dari rengekan, tangisan kerasnya. Biar orangtuanya saja yang membujuk dan menenangkannya.

Aku tidak mau harus mencuci karpet dan mengepel lantai masjid lagi. Bukan karena capeknya. Tapi karena malu pada bapak-bapak pengurus masjid.

 

kontes cerita ramadhan emir

kontes cerita ramadhan emir

 

Oleh: Anne Maria

Dari: Surabaya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *