Catatan Ramadhanku

Sudah sembilan belas hari yang lalu umat muslim melaksanakan ibadah puasa. Di pertengahan bulan suci penuh hikmah ini baragam cobaan dan ujian mulai menghampiri sebagai parameter keberhasilan kita selama menjalankan ibadah puasa. Apalagi nuansa lebaran juga sudah mulai tercium di minggu ketiga ini. Sekilas cerita ke belakang di awal bulan ramadhan. Seperti bisa, di tahun 1430 Hijriah ini umat muslim melaksanakan ibadah tarawih atau biasa juga disebut dengan istilah qiyamul lail selama sebulan penuh.

Kala itu jumlah jemaah cukup banyak dan hampir memenuhi setiap ruang masjid yang telah mengalami renovasi pelebaran sayap kanan dan kirinya. Ini menandakan adanya peningkatan jemaah. Suasana semakin semarak dengan hadirnya mujahid-mujahidah kecil dan celoteh riang mereka yang tak mau ketinggalan memeriahkan ramadhan tahun ini. Sebagian dari mereka turut serta ibu/ bapak mereka, ada juga yang datang sendiri bersama kawan-kawan di sekitar kompleks rumah masing-masing.

 Lantunan ayat-ayat suci al quran oleh sang Imam membuat sholat terawih berjalan penuh khidmat. Ayat demi ayat, rekaat demi rekaat berlangsung dengan lancar. Tiba-tiba di tengah rekaat tarawih ke tiga dan ke empat sontak terdengar suara gaduh di pojok kanan masjid, tempat dimana anak-anak kecil biasanya menggelarkan sajadahnya untuk sholat. Sejenak sebelum suara gaduh itu terdengar, celoteh mujahidah-mujahidah kecil bergema hingga di area sayap kiri masjid. Rupanya sumber suara gaduh itu berasal dari teguran seorang ibu pada seorang mujahidah kecil yang memang saya akui dia sangat ceriwis. Dalam keheningan salawat nabi yang dikumandangkan muadzin, suara ibu tersebut memecah suasana masjid berubah menjadi sangat tidak mengenakan. Ibu itu memperingatkan pada si kecil yang bila kutaksir perkiraan umurnya baru tiga setengah tahunan agar tidak ribut selama di masjid. Sebaliknya, jika dia masih tetap berceloteh lebih baik meninggalkan masjid detik itu juga.

Sontak keributan kecil tersebut menarik perhatian seluruh jemaah tarawih yang hadir. Sementara si kecil tampak diam tidak berkutik. Mungkin ada sebersit ketakutan dalam dirinya mendengar teguran dari si ibu yang notabene bukan ibu kandungnya sendiri. Duhai mujahidah kecil, semoga hatimu tidak terluka. Semoga kejadian malam ini tidak menyurutkan semangatmu untuk memeriahkan masjid yang pada kenyataannya semakin sedikit orang enggan melangkahkan kakinya menuju rumah Alloh nan suci ini.

Aku sempat berpikir dalam hatiku  bagaimana perasaan si anak yang mendapat teguran dan usiran tersebut. Baikkah cara ibu tersebut pada si anak? Kuhargai maksud si ibu yang sebenarnya, tetapi tidak adakah cara lain yang lebih halus tanpa menarik perhatian jemaah? Tak terpikirkah pendekatan lain untuk mengingatkan si kecil? Mungkin kita akan berpikir anak seumuran itu tidak merasakan apa-apa selain takut akibat dimarahi. Ya… bagi anak seumuranya, dia hanya mengenal kata ”dimarahi”, tidak lebih. Mungkin juga akhirnya nanti di rumah dia akan bercerita pada ibu atau bapaknya seputar pengalamannya dimarahi seorang ibu di masjid. Tapi yang lebih penting dari semua itu, apakah kita pernah berusaha untuk menghargai mereka? Pernahkah kita besarkan hati mereka? Minimal sekedar memuji atau menyapanya betapa semangat dan rajinnya ia sholat di masjid?

Jarang dari kita yang melakukannya walau mungkin ada sebagian dari kita yang benar-benar tulus mengungkapkannya. Padahal kita tahu, anak-anak seumuran mereka sangat senang dengan pujian, dorongan, dan semangat bukan hal yang sebaliknya. Kita, orang tua kita, Anda tentunya pernah mengalami masa kanak-kanak, bukan? Coba sejenak Anda buang jauh-jauh diri Anda yang sekarang, kemudian berandailah bahwa Anda adalah si anak kecil yang ditegur tersebut. Apa yang Anda rasakan? Atau mungkin cobalah posisikan Anda sebagai ibu kandung dari si anak. Apa yang Anda rasakan? Si kecil buah hati Anda mendapat perlakuan serupa. Sebagai orang tua tentulah ada rasa tidak terima, bukan? Andalah orang tua mereka. Andalah yang paling tahu mereka. Andalah yang berhak atas mereka. Pendidikan akhlak dan perilaku mereka Anda pulalah yang mengajarinya. Masih belum cukup? Posisikan Anda sebagai si ibu yang menegur si anak. Apa yang Anda rasakan?

Semoga dikemudian hari kejadian serupa tidak terulang kembali. Bila nantinya ada peristiwa sejenis, semoga mereka yang mengalaminya menemukan cara lebih bijak dan arif dalam penyelesaiannya. Dan yang tak kalah penting, dampingilah si kecil dalam menemukan dunia barunya. Perhatian dan bimbingan orang tua lah yang akan membantunya memahami hal-hal baik dan buruk dalam setiap episode kehidupannya. Dan semua itu dimulai dari pendidikan di rumah.

*Untuk para ibu yang sangat menyayangi buah hatinya…

kontes cerita ramadhan emir

Gambar Kakak beradik yang belajar sholat berjamaah di rumah

Oleh: Nita Evlina

Dari: Tegal, Jawa Tengah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *