Apa Pun Itu, Alhamdulillah-lah Selalu

PDFPrintE-mail

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang mana kita semua masih diberikan banyak sekali nikmat oleh Allah swt. Baik nikmat yang ada di dalam diri kita maupun yang di luar dari diri kita. Contoh nikmat yang ada dari dalam diri kita, kita bisa bangun dari tidur, bisa memelekkan mata, masih bisa bernafas, bisa mengedipkan mata, bisa mendengar, berjalan, mencium, dan masih banyak sekali nikmat yang telah kita terima yang terkadang kita tidak menyadarinya kalau itu semua adalah nikmat dari Allah. Contoh nikmat yang tidak dari diri kita, kita melihat pemandangan yang indah, berinteraksi social, dan masih banyak sekali yang tidak bisa disebutkan oleh penulis satu persatu. Karena kita semua sebagai makhluk ciptaan Allah memang disuruh mensyukuri nikmat-Nya, bukan menghitungnya. Karena niscaya kita tidak akan bisa menghitungnya saking banyaknya nikmat Allah. Hal itu telah tertulis di dalam Al-Quran Surah An-Nahl: 18

وَ إِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوهَاۤۖ إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.


Oleh karena itu di mana pun, kapan pun, dan bagaimana pun keadaannya kita supaya tetap dan terus bersyukur kepada Allah. Penulis akan merinci satu persatu mulai dari ‘di mana pun’. Ketika kita di rumah, Allah selalu melimpahkan nikmat-Nya kepada kita seperti bertemu dengan orang tua, bercerita, bercengkrama, bercanda dengan saudara-saudara, makan bersama keluarga, tertawa, mengaji bersama keluarga, dan masih banyak lagi. Itu ketika di rumah, bagaimana ketika kita sedang di luar rumah, seperti di kantor, di angkutan umum, di jalan, di kendaraan? Pastinya kita tidak bisa menghitung semua nikmat-Nya, maka ucapkan Alhamdulillah.


‘Kapan pun’, kita harus senantiasa bersyukur pada saat waktu yang telah lewat, waktu yang sedang dijalankan maupun waktu yang belum kita jumpai. Sebagai contoh kita telah hidup di zaman sekarang dan kita telah ditinggalkan Al-Quran dan Al-Hadits sebagai pedoman hidup kita. Apa jadinya jika kita hidup pada zaman nabi, apakah kita masih bisa percaya dan yakin bahwasannya Nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah swt.? Oleh karena itu marilah kita ucapkan syukur dengan ucapan Alhamdulillah.

‘Bagaimana pun keadaannya’, sudah sepantasnnya kita harus selalu bersyukur baik ketika kita sedang senang maupun susah, sedang sehat maupun sakit, sedang kaya maupun serba keterbatasan, dan sedang luang waktunya maupun sedang sibuk. Karena jika kita bersyukur kepada Allah, maka Allah akan memberikan rasa cukup kepada hati kita. Oleh karena itu ucapkanlah Alhamdulillah.

Akan tetapi kita tidak cukup bersyukur dengan lisan, kita juga harus mengimplementasikan rasa syukur kita di kehidupan sehari-hari. Seperti ketika kita sedang banyak rezeki, maka bershadaqahlah. Ketika sedang sehat, maka berolahragalah dan gunakan kesehatannya untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Maka dari itu, APAPUN ITU, ALHAMDULILLAH-LAH SELALU.

Most Read Articles

esis emir