Menikah: Pilihan Hati dan Agama?

PDFPrintE-mail

Menikah adalah salah satu step dan momentum terbesar dalam kehidupan manusia. Keputusan menikah tentu memerlukan kesiapan mental jiwa dan waktu yang cukup matang. Menikah merupakan ibadah, maka dari itu Islam mengatur bagaimana kaifiah (cara) menikah mulai dari memilih pasangan hidup sampai urusan bagaimana caranya suami dan istri berkasih sayang.

Berbicara tentang menikah tentu tidak lepas dari keputusan memilih pasangan. Dalam memilih pasangan, seyogianya jangan hanya memprioritaskan pilihan hati yang bersifat subjektif, namun perlu juga dipertimbangkan aturan agama yang jauh lebih penting daripada hati. Lantas, bagaimana memilih pasangan yang sesuai dengan hati sekaligus sesuai dengan norma agama yang telah ditetapkan?

Menikah tidak hanya berkomitmen antara laki-laki dengan perempuan saja. Jika menikah yang berlandaskan saling ‘menyurgakan’, maka pasangan yang ingin menikah haruslah berkomitmen juga kepada Allah SWT, karena ketika saat pasangan menjalin hubungan yang berlandaskan seperti itu, Allah SWT ‘melibatkan diri’ di dalamnya. Dalam Al-Qur’an surah Al-Mujaadalah [58]: 7 diterangkan bahwa setiap ada tiga orang yang berbisik-bisik, maka Allah SWT menjadi yang keempat, dan bila ada lima orang yang berbincang maka Allah SWT menjadi yang keenam. Artinya Allah SWT selalu Mengetahui apa yang mereka bicarakan karena Allah SWT lebih banyak bersama mereka. Kelak, Allah SWT akan memberitakan apa yang mereka kerjakan (di hari Kiamat).

Mencari pasangan yang seiman sangatlah penting. Dalam arti, mempunyai pemahaman yang sama serta sejalan terutama perihal agama. Jika tidak sejalan perihal agama, maka ke depannya akan sulit menyatukannya.

Seyogianya pilihlah pasangan yang bisa mengajak pada kebaikan dan menghindari hal-hal yang haram. Allah SWT berfirman dalam surah At-Taubah [9]: 71, “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) kebaikandan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

Oleh karena itu, kiranya para generasi muda mau mengoreksi dan mengintrospeksi diri, apakah menikah didasari kepentingan agama yang harus diniati karena Allah SWT atau kepentingan hati? Hal ini kembali pada diri masing-masing. Jika Allah SWT dijadikan 'teman komunikasi', maka niat menikah tersebut akan lebih mudah terwujud. Niat menikah harus juga berniat mencari ridha Allah SWT.

Ada tiga hal bekal dalam menikah, yakni paham agama, berakhlak yang baik, dan mandiri. Paham agama, yakni sama-sama mengerti ilmu agama seperti halal-haram, mahram dan bukan  mahram, suci-najis, dan sebagainya. Akhlak yang baik, yakni memiliki akhlak yang sesuai ajaran agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Mandiri, yakni seseorang yang sudah tidak bergantung kepada orang lain atau mampu membelanjakan pendapatannya dari hasil keringat sendiri. (Faqih/ Emir)

Most Read Articles


esis emir