Wawancara Mulyadhi Kartanegara

PDFPrintE-mail

Penulis buku Islam Buat yang Pengen Tahu, Menyelami Lubuk Tasawuf, Mengislamkan Nalar; Nalar Religius.

Mulai dari mengenai tasawuf, apa yang disebut dengan tasawuf?
Tasawuf itu adalah merupakan salah satu cabang dari ilmu yang dikembangkan oleh ulama-ulama islam, para sarjana muslim dan itu menurut ibnu khaldun masuk ke dalam wilayah ilmu-ilmu naqliyah, ilmu-ilmu agamalah kalo kita bilang.


Dimana yang membedakan ilmu agama dan ilmu rasional adalah ilmu agama berdasar otoritas, otoritas itu artinya akal tidak diberi wewenang untuk memberikan judgement, qur'an misalnya itu tidak boleh dirubah-rubah kalau hanya berusaha untuk memahami apa yang sudah tertulis, hadis juga tidak boleh dirubah-rubah iya kan?, itu model naqliyah tujuannya bukan untuk menganalisi secara rasional, tetapi bagaimana memastikan hukum-hukum agama dijalankan. Jadi tawasuf ilmu naqliyah, ilmu agama yang tujuannya adalah untuk memberikan petunjuk bagaimana kita mengabdi kepada Allah.

Apa yang melatarbelakangi bapak mempelajari tasawuf dan apa manfaat yang bias kita ambil setelah membaca buku ini? Jadi sebenarnya kalau menurut pengalaman saya sendiri ya, saya dulu kan dibesarkan di masyarakat agama, tapi agama yang disampaikan tidak secara jelas yang tidak mau menerima perbedaan penafsiran dan sebagainya, sehingga itu membuat saya justru lari ke filsafat. Filsafat kebalikan dari agama yang membuat kita justru memberi peluang luas sekali akal kita untuk mengeksplor apa saja itu sering kebablasan. Mungkin kita lupa kepada aturan-aturan agama, saya pernah mengalami itu, setelah membaca Freud (froisse), setelah membaca karl marx, setelah membaca.....sempat saya dilanda keraguan apakah tuhan itu betul-betul ada atau emang itu betul-betul diadakan seperti yang dikatakan freud itu diadakan oleh manusia untuk alasan-alasan psikologi.

Saya betul-betul sampai pada point dimana saya berada di antara iya atau tidak untuk percaya kepada tuhan. Nah! tentu saja filsafat, seperti yang saya baca juga, memberikan mamfaatnya kepada manusia untuk memberikan wawasan luas tentang akhlak, tentang dunia dan sebagainya, Cuma menurut saya ternyata akal saja, tidak cukup membimbing manusia ke arah kebenaranlah paling ga. Dan itu menurut ahli tasawuf adalah karena sebenarnya kebenaran itu ada di dalam hati kita tapi filsafat terpelusuk mencarinya di luar diri kita seperti alam semesta dan sebagainya, sehingga dia seperti orang yang mencari harta karun tapi sebenarnya sambil meninggalkan harta karun itu kan?. Itulah sebabnya para filosof itu gagal dalam pencariannya itu. Tasawuf itu lain lagi, justru tasawuf kemudian memberikan petunjuk yang benar kemanakah kita harus mencari tentang kebenaran itu.

Kemudian saya disadarkan oleh Jalaudin Rumi, karena Jalaludin Rumi memberikan keyakinan kepada saya tentang adanya tuhan, dengan bahasa indah melalui puisi bukan bahasa yang kering yang dimiliki oleh filsafat. terus terang aja waktu saya mengenal filsafat, seneng filsafat itu saya, boleh dikatakan ga bisa ketawa, ga bisa menangis jadi waktu kakek saya meninggal, bapak saya menangis, kenapa harus menangis, orang meninggal. Jadi semua harus dirasionalkan hidup jadi kering, kita ga bisa menangis ga bisa ketawa bahkan kita ga bisa menasihati diri kita. Kata Jalaludin rumi bolehlah para filosof berbangga dengan seribu satu macam tentang ilmu pengetahuan tapi tentang dirinya mereka ga tahu apa-apa. Jadi tasawuf menurut saya justru memberikan pengarahan tentang bagaimana mengenali diri kita yang sesungguhnya karena barangsiapa yang mengenal dirinya akan mengenal tuhannya, saya itu menemukannya pada filsafat bukan dalam teologi atau bahkan bukan dalam fiqih. Dan itu saya bilang harus berbagi nih, berbagi dalam pengalaman ini kepada para pembaca makanya saya terdorong menulis tasawuf.

Kenapa bapak merasa bahwa ajaran agama yang telah diberikan secara dogmatis itu kurang, harus ditambah dengan tasawuf?
Karena pemahaman kita terhadap agama yang ajaran dogmatis itu kemudian tidak diberikan kesempatan untuk berkembang jadi kan kita pokoknya begini, hitam putih. Kemudian fiqih kehilangan dimensi spiritualnya pokoknya yang penting kita shalat, kita lepaskan kewajiban kita, kan sering begitu jadi mengarah kepada formalitas, formalisme. Kalau itu yang terjadi,maka kita ga akan bisa menikmati kerelijitas itu karena kita seperti menikmati mekanistik, seperti yang harus dilakukan, seperti membayar hutang saja. Tapi apa itu agama, kan ga mungkin agama itu lebih, punya pesan yang lebih, lebih itu lagi untuk membahagiakan kita, kehidupan kita dan sebagainya. Justu saya temukan di dalam tasawuf. Sebenarnya gini, menurut Ahmad syirifghi yang namanya syariat itu beda denga fiqih. Fiqih itu adalah aspek badani, aspek lahiriah dari syariah. Syariat itu juga ada aspek rohaninya yaitu tasawuf tapi ketika syariat jadi fiqih orang meninggalkan aspek spiritualnya maka kemudian kata al-Ghazali tasawuf itu harsu dikembalikan lagi, digabungkan lagi dengan syariah, sehingga kemudian yang bagus adalah syariat dan tasawuf digabungkan, dimensi lahiriah dan batiniah disatukan.

Banyak kelompok yang mengatakan bahwa tasawuf itu bid'ah, tidak pernah diajarkan oleh nabi, adakah dasar islami untuk tasawuf itu? Saya kira ada kata tasawuf itu sendiri, mungkin orang-orang berselisih darimana kata tentang at-taswuf itu, kata-kata ahli sufa, orang yang dekat dengan nabi, orang yang tidur di emperan masjid nabawi, ada yang dari satu taman ke taman lainya. Ada yang mengatakan dari kata shofia, kesucian artinya. Kata-kata tasawuf itu, mungkin itu baru muncul setelah abad 2 hijrah sehingga orang mengatakan itu bid' ah. Tapi kalau kita lihat misalnya, ajaran tasawuf itu, ajaran inti tasawuf itu tentang tauhid. Tauhid itu sudah ada dalam al-qur'an iya kan? Qulhuwallhu ahad, allahush shamad itulah adalah tauhid kan. Kemudian bicara tentang cinta, itu di dalam al-qu'an ada, iya kan? Wa inkuntum tuhibbunallah fattabi'u ni yauminkum, maka gambaran cinta timbal balik antara hamba dan tuhan itu tergambar jelas iya kan?kemudian ada lagi yang mengatakan akan datang suatu kaum yang mereka mencintai tuhan dan tuhan mencintai mereka iya kan? Jadi para sufi kalau menumpahkan konsep cinta itu bukan berartti tidak ada dasar islaminya di dalam al-qur'an ada, iya kan? trus faktor raqibullah itu misalnya, kedekatan dengan Allah. Itu banyak landasannya, jelas itu, jasa 'ala ka'ibadika 'anil qarrib tujibu ba'da 'anil qarrib bahkan ada juga yang mengatakan nahnu aqrabu ilahi minhabbil qariib, jadi kedekatan dengan Allah yang menjadi tujuan pada tasawuf, itu juga kita mendapatkannya di dalam al-qur'an. Hadis juga bisa jadi jam'a makrifatit, bararangsiapa yang mengenal dirinya maka akan mengenal Allah, man 'arafa nafsaha ma 'arafallahu. Itu semua ada sandaran-sandaran hadis dan juga kemudian qur'annya. kemudian tentang kehadiran tuhan, fainnama tuwa........., kehadiran Allah.

Kemana saja menoleh maka ada wajah Allah. Itu kan kehadiran Allah dimana-mana, ajdi tema sentral. Dan itu kita tidak mungkin bisa sampai melihat wajah Allah dimana-mana kalau ga ada cinta iya kan? kalau kita jatuh cinta sama orang, rindu sama orang wajahnya ada dimana-mana, orang seperti dia aja kayak dia dan itu ga bisa dijelaskan kalau kita jatuh cinta kepada tuhan. Dikatakan bahwa mukmin yang sejati adalah faiza zikrullah wajalat qulubihi, kalau disebut nama Allah ada getaran, ga mungkin ada getaran ga ada cinta. Namanya cinta kepada seseorang, disebut namanya kan ada getaran, dan itu semua dijelaskan dengan cinta dan itu ada indikasinya, isyarat-isyaratnya dalam al-qur'an. Jadi jelas itu ada dan saya mengatakan walaupun orang boleh mengatakan tasawuf dipengaruhi oleh sistem- sistem sebelumnya atau kita mungkin juga boleh mengatakan tasawuf mempengaruhi sistem yang lain iya kan? tapi itu tidak berarti tanpa pengaruh luar tasawuf ga bakal jalan karena dasar-dasarnya sudah ada dalam al-qur'an kalo emang belajar tehnik zikirnya dari orang budha ya ga pa-pa, kayak yoga, konsentrasi dan sebagainya ga pa-pa iya kan? Bukan berarti tanpa pengaruh budha kemudian ga ada tasawuf, saya kira tasawuf itu islam sudah memberikan dasar-dasar dalam al-qur'an maupun hadis untuk terbinanya sebuah disiplin ilmu yang seperti tasawuf dan saya percaya ada dasar-dasar islam mengenai tasawuf.

Nah kalau bid'ah diartikan sesuatu yang cakup ilmu yang dikembangkan setelah nabi, kalau gitu banyak sekali yang bid'ah donk, fiqih sudah ada belum tuh pada jaman nabi, fiqih belum ada karena yang paling awal adalah abu hanifah kemudian imam malik dan itu setelah beberapa abad iya kan? hadis, koleksinya kan setelah itu kemudian nahwu sharaf belum ada pada jaman nabi, itu sibaway. Bahkan ilmu tafsir sendiri juga belum ada pada saat itu. Jadi apa yang dimaksud dengan bid'ah kalau bid'ah adalah ilmu agama yang dikembangkan setelah nabi tidak ada maka banyak sekali yang bid'ah. Jadi yang penting bahwa apakah ajaran ini bertentangan secara dimentris dengan fundamental keimanan kita, nah itu yang menjadi, bukan apakah dia diciptakan setelah nabi atau bukan, jadi saya ga terlalu cemas dengan soal kalau bid'ah atau tidak.

Di indonesia ini tasawuf relatif mudah diterima secara layak, Indonesia pun sudah banyak tasawuf. Cuma ada batasan tertentu tasawuf yang diterima kayak ghazalian atau Junaedi. Bapak setuju tentang dikotomi tasawuf sunni dan falsafah itu?
Memang ada penekanan orientasi yang berbeda tapi kalau sunni dan falsafi saya kira tidak cocok, karena kalau falsafi itu kemudian mungkin tus ikhkalni kalau sunni si'i iya kan. Yang satu bagian teologi yang satu bagian disiplin ilmu, saya kira ga cocok. Kalau misalnya nazhari dengan 'amali mungkin itu bisa, jadi ada tasawuf yang memang berorientasi kepada teoritis yang itu disebut falsafi yaitu wahdatul wujud dan sebagainya. Kemudian yang lainnya itu adalah akhlak, jadi kalau bisa, kalau mungkin adalah falsafi dan akhlaqi, falsafi itu adalah teoritis kemudian akhlaqi adalah praktis karena akhlak memang bagian dari falsafi.

Di sini dikenal dengan nazhari dan 'amali? ya
Kalau di sini falsafi itu kesannya yang al-Hallaj dan Ibnu Arabi?
Nazhari. Cuma dalam nazhari itu kan ada dua ada yang istilahnya mabuk kepayang dan ada yang waras. Kalau orang-orang seperti jalaludin rumi, rabi'ah adawiyah saya kira masuk ke mabuk kepayang sementara juned, ghazali dan sebagainya mausk ke dalam waras gitu. Tapi apakah mereka pada dasarnya berbeda?ga, itu hanya metode mereka menyampaikan itu, ada yang sangat strict itu ga boleh tembus sama orang awam karena itu maka di hadapan orang awam dia mengatakan begini begini. Mengapa al-hallaj kemudian menjauhi gurunya karena dianggap gurunya ga gentle. gurunya mengalami ini tapi ga mau mengatakan ini, al-hallaj ga mau, kalau mengalami ini maka mengatakan ini, soal gaya saja.

Tapi al-ghazali sendiri juga memahami betul ajaran-ajaran bustan dan sebaginya tapi tidak menyalahkan mungkin yang disalahkan mengapa mengatakannya di depan umum, al-ghazali sendiri mempunyai pendapat seperti ini ilmu-ilmu seperti ini, buku yang ditulisnya misalnya miskatul anwar, dia bilang gitu ga boleh tembus pada orang yang belum berhak menerimanya alaias awam tapi juga tidak boleh disembunyikan pada mereka yang memang sudah memenuhi persyaratannya maka al-ghazali menulis miskatul anwar untuk orang hawas tapi mungkin yang lain yaulumiddin untuk orang awam kalau misalnya terjadi seperti konflik dan sebagainya, itu sebenarnya bukan untuk itu karena sebenarnya mereka berbicara untuk audience yang berbeda tapi intinya mereka pada tahu, saya kira wahdatul wujud semuanya memahami bahkan mungkin mengalami, ekspresinya bisa berbeda, ada yang puisi, karena kalalu misalnya mabuk cinta itu, mabuk kepayang itu pasti larinya ke puisi. Seperti kalau kita jatuh cinta larinya puisi.

Jadinya seperti ahli sastra? Sebenarnya Jalaudin Rumi tadinya bukan ahli sastra tuh, ketika mabuk kepayang ke puisi akhirnya jadi penyair, mendadak jadi penyair. Intensitas cintanya pada gurunya, syamsudin tamriziq. Ketika syamsudin tamriziq hilang, dia nulis diwani syamsudin bukan maen, puisi cinta yang paling indah. Matsnawi kalah keindahannya itu, ditulis keadaan rindu banget kepada gurunya itu dan diakhir puisinya itu menyebut, selalu menyebut nama gurunya, apakah secara alegoris makanya disebut diwani syamsudin.

Apakah organitas terhadap kehidupan negara ini? Kalau saya melihatnya kesejahteraan hidup manusia kebahagiaan manusia tidak bisa dicapai kecuali dalam keseimbangan. Ketika masyarakat modern sudah terlalu cenderung ke materialisme, itu menimbulkan kegoncangan tersendiri ketika tidak balance dalam diri seseorang. Kehidupan materi, kehidupan serba materi, kehidupan serba modern yang material kemudian tivi yang berorientasi kepada fisik, kemudian ditambah lagi dengan iklan-iklan yang semuanya fisik itu akan terlalu berat kepada fisik sehingga kemudian ada ruang yang hampa di bagian terdalam diri manusia yaitu kerohanian.

Nah tasawuf datang mengisi itu, ruang hampa itu. Walaupun kemudian disalah artikan jadi itu adalah pengisi kekosongan, nah itu menurut saya yang kurang bener itu. Jadi orang datang berbondong-bondong untuk belajar tasawuf, itu untuk mengisi kekosongan itu. Jadi cara pragmatis gitu, padahal sebenarnya tidak begitu, semua harus dijalankan dengan sepenuh hati sebagai suatu kebutuhan. Saya kira relevan untuk jadi penyeimbang kalau memang syaratnya kebahagiaan dan kesejahteraan adalah keseimbangan maka tasawuf datang memberi keseimbangan itu. Nah hebatnya lagi tasawuf itu tidak terlalu memaksakan, misalnya alat-alat buruk itu dalam istilah agama sering disebut dosa.

Most Read Articles

esis emir