Seminar Bahasa Inggris Kepala Sekolah Jakarta Timur

PDFPrintE-mail

Pengajaran Bahasa Inggris di tingkat dasar sangatlah penting dan krusial yang akan menentukan proses pembelajaran bahasa di jenjang selanjutnya. Hal ini terungkap pada Seminar Edukasi dan Pembelajaran: PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENDORONG PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI TINGKAT DASAR.

Seminar tersebut digagas oleh Penerbit Erlangga dan bekerja sama dengan Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur. Seminar akbar ini terselenggara pada 18 Januari 2011 dan diikuti oleh sekitar 170 kepala sekolah SD se Jakarta Timur.

Pengembangan pembelajaran bahasa Inggris yang efektif merupakan tanggung jawab semua stakeholder pendidikan, sekolah, kepala sekolah, guru, murid, yayasan, pemerintah, dan orang tua. Kepala sekolah sebagai pejabat berwenang dalam suatu satuan pendidikan sangat penting untuk membangun visi dan misi dan mewujudkannya dalam aksi nyata untuk mendorong peserta didik mempunyai kompetensi yang memadai dalam bahasa Inggris. ”Acara ini memang digagas untuk membuka wacana kepala sekolah di tingkat dasar tentang arti pentingnya pengajaran bahasa Inggris di tingkat dasar,” kata Bpk. Raymond, kepala editor.

Seminar Akbar ini menghadirkan Ibu Itje Chodidjah, seorang ahli dalam Teaching English to Young Learners (TEYL). Beliau memang mengabdikan ilmu dan hidupnya untuk pengembangan pengajaran bahasa Inggris di tingkat dasar, baik secara nasional dan internasional. Dinas Pendidikan Jakarta Timur juga sangat mendorong terselenggaranya acara ini. Bapak Mangatur Sinaga, Kasie. PSD Jakarta Timur, berkenan menghadiri acara ini dan membuka acara ini dengan resmi.

Pengajaran Bahasa Inggris di tingkat dasar harus disajikan secara bersungguh-sungguh dan semenarik mungkin. Secara mental, anak sedang dalam proses konstruksi secara kognitif (termasuk lingustik). Siswa sekolah dasar sedang dalam proses konstruksi bahasa Indonesia yang sedang mengalami perluasan dengan kosa kata baru dan dengan ragam tulisan; apalagi bagi siswa yang bahasa ibunya bukan bahasa Indonesia, dalam masa tersebut siswa sedang mengkonstruksi tatanan bahasa Indonesia (yang sangat mungkin berbeda dengan bahasa Indonesia). Karena itu, pelajaran bahasa Inggris harus mempertimbangkan faktor tersebut. Jangan sampai pembelajaran bahasa Inggris, yang mempunyai konstruksi sintaksis, morfologi dan semantik, akan menjadikan peserta didik mengalami pengalaman stress yang akan mengakibatkan penolakan secara psikologis bagi anak di jenjang-jenjang berikutnya. Karena itu, TEYL harus merupakan kegiatan yang menarik dan menyenangkan. Jangan sampai kegiatan pembelajaran hanya merupakan kegiatan latihan tertulis semata. Guru harus mampu tampil sebagai pendidik yang kreatif dan menjadi model bagi para peserta didik.





Hal tersebut merupakan tantangan yang luar biasa bagi para penyelenggara pendidikan di tingkat dasar. Dalam konteks perkembangan mental peserta didik tersebut, pengajaran bahasa Inggris harus tetap disajikan secara bermakna. Karena itu, pengajaran bahasa Inggris harus diletakkan dalam koridor konteks pengalaman hidup anak. ”Ketika berkomunikasi, apakah anak (penutur asli sekalipun) biasanya akan mengatakan Hi, I am Dono – How are you? – I am fine thank you. – Nice to see you? Tuturan tersebut adalah tuturan orang dewasa,” tutur Ibu Itje. Anak hanya akan mengatakan Hi,... Hello, I’m Dian apabila berkenalan dengan teman sebayanya. Konteks sangat perlu dan akan terus bertambah rumit dalam jenjang-jenjang berikutnya. Ibu Itje menegaskan,”Belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi...bukan mempelajari ilmu bahasa.” Karena itu, sangat diharapkan pengajaran bahasa Inggris di tingkat dasar lebih diarahkan pada penggunaan bahasa dalam konteks keseharian anak-anak. Peserta didik jangan dipusingkan dengan pengenalan tata bahasa.



Seminar ini dirasakan cukup memberi wawasan kepada kepala sekolah karena penyajiannya disampaikan secara lugas, gamblang dan menyegarkan. ”Seminar ini cukup memberi tambahan wawasan dan saya berkesimpulan bahwa memang beberapa hal dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah saya memang harus dibenahi.” tutur Ibu Sri, salah satu peserta seminar.

Penerbit Erlangga akan terus mendorong pengembangan mutu pembelajaran bahasa Inggris lewat seminar serupa dan workshop baik untuk guru atau pun kepala sekolah.(Dwi Wahyu Priyanto)

Most Read Articles

esis emir